Meski demikian, pasar mengkhawatirkan daya tahan arus kas jika pengeluaran capex terus membumbung tinggi. Sebagai gambaran, Microsoft membukukan arus kas operasional USD35,8 miliar (sekitar Rp583,5 triliun) pada kuartal kedua fiskalnya, sementara belanja modalnya mencapai USD37,5 miliar (sekitar Rp611,25 triliun).
"Pertumbuhan laba mungkin tidak cukup untuk membenarkan investasi jika capex menguras kas. Perusahaan ada untuk menghasilkan uang, bukan menghabiskan uang," kata Global Head of Market Strategy TradeStation David Russell.
Tekanan paling nyata terlihat pada Oracle. Saham perusahaan tersebut telah merosot 36 persen sepanjang tahun ini seiring arus kas bebasnya yang berbalik negatif. Rasio capex terhadap arus kas operasional Oracle melonjak tajam dari 47 persen pada tahun fiskal 2022 menjadi 174 persen pada tahun fiskal 2026. Oracle bahkan berencana menggalang dana USD45 miliar hingga USD50 miliar (sekitar Rp733,5 triliun hingga Rp815 triliun) melalui utang dan ekuitas demi membiayai ekspansi infrastruktur cloud.
Sejauh ini, Microsoft, Alphabet, dan Meta masih menghasilkan arus kas bebas yang cukup untuk menutup dividen dan aksi buyback saham. Namun, program pengembalian dana ke pemegang saham tersebut dinilai berpotensi terancam jika monetisasi AI memakan waktu lebih lama dari perkiraan. (Reporter: Sheqilla Sukma) (Wahyu Dwi Anggoro)