Dalam surat kepada Meta, Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India mengatakan fitur tersebut dapat menyebabkan peningkatan penipuan online, phishing, dan peniruan identitas, lapor surat kabar Indian Express.
"Ada kemungkinan bahwa pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat mengklaim nama pengguna dan mengirim pesan kepada pengguna lain sambil berpura-pura menjadi orang lain," kata seorang pejabat senior pemerintah seperti dikutip oleh harian berbahasa Inggris tersebut.
"Bagi mereka yang mungkin tidak memahami teknologi untuk membedakannya, ini bisa menjadi tantangan besar," ujarnya.
Kementerian itu meminta Meta untuk tidak meluncurkan fitur tersebut sampai konsultasi mengenai masalah ini selesai, tambah surat kabar tersebut.
Bulan lalu, Meta menunjuk tokoh fintech India, Kunal Shah, sebagai pemimpin WhatsApp yang baru.