Di sisi lain, lonjakan harga chip memori akibat tingginya investasi kecerdasan buatan mulai membebani produsen perangkat elektronik. Namun, Presiden Nintendo Shuntaro Furukawa mengatakan kenaikan harga chip tersebut belum berdampak signifikan terhadap kinerja tahun fiskal ini.
“Jika lonjakan harga berlanjut di luar perkiraan dan terjadi dalam jangka panjang, tentu bisa menekan profitabilitas,” ujarnya.
Nintendo dinilai memiliki posisi lebih kuat dibanding pesaingnya karena dukungan persediaan besar dan kontrak jangka panjang. Analis Jefferies, Atul Goyal menyebut kondisi tersebut akan "melindungi" perseroan selama beberapa kuartal ke depan.
Pada kuartal terakhir, Nintendo membukukan laba operasional sebesar 155 miliar yen atau setara Rp16,7 triliun. Nintendo memproyeksikan laba operasional tahunan mencapai 370 miliar yen, naik hampir sepertiga dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.
Saham Nintendo tercatat turun hampir sepertiga dari level tertingginya pada November lalu. Analis Goldman Sachs. Minami Munakata menilai kekhawatiran soal potensi kerugian Switch 2 berlebihan karena Nintendo secara konsisten tidak pernah menjual perangkat kerasnya di bawah biaya produksi.