AALI
12000
ABBA
184
ABDA
6250
ABMM
3050
ACES
980
ACST
157
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
685
ADMF
8075
ADMG
179
ADRO
3100
AGAR
330
AGII
1970
AGRO
910
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
62
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1020
AKSI
350
ALDO
905
ALKA
294
ALMI
288
ALTO
206
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20171.27
0.29%
+59.17
N225
26677.80
-0.26%
-70.34
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,471 / gram

Bank Jago Catat Rugi Rp47 Miliar di Semester I-2021, Ternyata Ini Penyebabnya

BANKING
Hafid Fuad
Senin, 26 Juli 2021 14:29 WIB
Kinerja keuangan PT Bank Jago Tbk masih mencatat kerugian yang cukup besar pada Semester I-2021, emiten berkode ARTO ini masih merugi sebesar Rp47 triliun.
Bank Jago Catat Rugi Rp47 Miliar di Semester I-2021, Ternyata Ini Penyebabnya. (Foto: MNC Media)
Bank Jago Catat Rugi Rp47 Miliar di Semester I-2021, Ternyata Ini Penyebabnya. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kinerja keuangan PT Bank Jago Tbk masih mencatat kerugian yang cukup besar pada Semester I-2021, di mana emiten berkode ARTO ini masih merugi sebesar Rp47 triliun. Hal ini terjadi karena perseroan terus mengalokasikan sebagian besar biayanya untuk investasi.

Direktur Utama Bank Jago, Kharim Siregar, mengungkapkan, perusahaan yang bergerak sebagai bank teknologi ini terus menginvestasikan dananya ke bidang IT, pengembangan aplikasi dan rekruitmen talenta baru. Alhasil, biaya operasional (operating expense) pun meningkat sebanyak 135% menjadi Rp183 miliar.

“Jadi, kinerja kami belum positif karena faktor investasi. Kami menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan masih sejalan dengan perencanaan awal. Investasi ini tentu akan bisa dinikmati hasilnya di masa mendatang,” kata Kharim di Jakarta, Senin (26/7/2021).

Namun, apabila dihitung secara kuartalan, kinerja Bank Jago sejatinya semakin membaik. Pada kuartal I 2021, ARTO membukukan kerugian Rp38 miliar.

Kondisi ini diraih berkat kenaikan kredit dan penempatan dana lebih dari hasil rights issue di instrumen produktif lainnya, sehingga kerugian dapat diperkecil menjadi Rp9 miliar pada kuartal II 2021.

“Data tersebut menunjukkan bahwa kinerja bank ini terus membaik dan semakin solid,” lanjutnya.  

Dari sisi aset, terdapat kenaikan yang signifikan sebesar 491% dari Rp1,7  triliun menjadi Rp 10 triliun. Adapun ekuitas meningkat 538% dari Rp1,3 triliun menjadi Rp8,1 triliun.

Dari sisi perolehan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan 326% menjadi Rp1,73 triliun yang mencerminkan tingginya kepercayaan publik terhadap bisnis model Bank Jago.

“Berbagai indikator keuangan menunjukkan Jago memiliki fundamental yang sangat kuat dan mampu menopang target untuk tumbuh secara berkelanjutan,” jelas Kharim.

Sementara itu, penyaluran kredit Rp2,17 triliun, tumbuh 695% dari posisi yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Jika secara kuartalan, kredit meningkat 68%. Dan jika ditarik dari posisi akhir Desember 2020 (year to date/ytd), kredit melesat 139%.

“Dari sisi nominal memang belum besar karena kami baru memulai ekspansi setelah rights issue II pada April 2021. Namun demikian, kami tetap bersyukur, selama pandemi, kami masih bisa mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap menjaga prinsip kehati hatian,” kata Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar di Jakarta (26/7/2021).

Prinsip hati hati dalam penyaluran kredit tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di level 0%. Dengan NPL sangat rendah, Bank Jago tidak perlu membentuk pencadangan dalam jumlah besar sehingga mampu menekan biaya kredit (cost of credit). 

Pertumbuhan kredit mengerek pendapatan bunga sebesar 289% (yoy). Dengan beban bunga yang hanya meningkat 46%, perseroan mampu membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 423% menjadi Rp139 miliar. Hal ini berdampak pada penurunan rasio cost to income dari 289% pada Semester I 2020 menjadi 129% pada Semester I 2021. Kondisi ini turut mendongkrak rasio net interest margin (NIM) dari 4,1% menjadi 5% pada kurun yang sama. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD