AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

BI Sebut Penyaluran Kredit di Sumut Melambat pada September 2021

BANKING
Wahyudi Aulia Siregar
Selasa, 26 Oktober 2021 10:45 WIB
Penyaluran kredit perbankan mengalami perlambatan dari 4,12% ke -0,45%.
BI Sebut Penyaluran Kredit di Sumut Melambat pada September 2021 (FOTO:MNC Media)
BI Sebut Penyaluran Kredit di Sumut Melambat pada September 2021 (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut), Soekowardojo mengatakan, penyaluran kredit perbankan mengalami perlambatan dari 4,12% ke -0,45%. 

"Ini didorong oleh melemahnya Kredit Modal Kerja (KMK) hingga 7,1% dari sebelumnya 13,3% pada Triwulan II 2021 serta melemahnya Kredit Investasi (KI) dari -7,6% ke -16,1%," ujarnya, Selasa (26/10/2021).  

Melemahnya penyaluran kredit ini, juga dikonfirmasi melalui survei kepada beberapa korporasi di Sumatera Utara yang menyatakan perusahaannya cenderung menggunakan retained earning untuk investasi. 

Seangkan, dari sisi sektoral, penyaluran pembiayaan menurun pada seluruh sektor utama kecuali sektor konstruksi. Melemahnya penyaluran kredit pada sektor Pedagang Besar Eceran (PBE) dan industri pengolahan diduga terjadi akibat sikap pelaku usaha yang masih wait and see terhadap perekonomian saat ini. 

”Begitupun risiko gagal bayar atau Non Performing Loan (NPL) tercatat menurun hingga 3,02% dari sebelumnya 3,26% pada Triwulan II 2021,” ungkap Soeko. 

Soeko menambahkan, penyaluran kredit korporasi juga menurun dari 6,9% ke -4,5%. Ini didorong oleh penurunan seluruh kelompok yang cukup signifikan, menunjukkan adanya kecenderung menunggu dalam berinvestasi dari sisi pelaku usaha. 

Dari sisi sektoral, penurunan kredit korporasi terjadi di seluruh sektor utama kecuali pada sektor konstruksi. Hal ini diperkuat dengan hasil survei Liaison yang menyatakan beberapa pelaku usaha tidak melakukan investasi pada tahun ini dan belum berencana untuk melakukan investasi di periode mendatang. 

Dari sisi risiko, NPL korporasi tercatat turun menjadi 3% dibandingkan dari Triwulan-II 2021 yang sebesar 4%, menunjukkan risiko terhadap kredit korporasi cukup rendah. 

Kredit korporasi menurun dari 6,9% ke -4,5%. Didorong oleh penurunan KI dari -7,1% ke -19,3%, KMK dari 16,7% ke 5,9%, dan KK dari 3,8% ke -7,5%. Penyaluran kredit korporasi menurun mengindikasikan masih terjadinya pesimisme korporasi di triwulan III- 2021. 

”Penurunan ini didukung pula dengan penurunan kredit pada seluruh Lapangan Usaha (LU) utama kecuali konstruksi yang mengalami perbaikan walaupun masih berada dalam teritori negatif," pungkasnya.  

Untuk rasio kredit bermasalah korporasi turun dibandingkan dengan Triwulan-II 2021. NPL korporasi turun di angka 3% dengan seluruh sektor utama mencatatkan perbaikan kualitas kredit. 

Berdasarkan jenis kredit, KK mencatatkan perbaikan kualitas kredit sebesar 2 basis poin pada triwulan III- 2021 dibandingkan triwulan sebelumnya, sementara kualitas kredit KMK masih berada pada level 4%. 

Likert Scale Permintaan Domestik dan Ekspor menurun mengindikasikan penurunan aktivitas korporasi. Penurunan pembiayaan korporasi terutama dari sisi KI dan KMK sejalan dengan hasil liaison Bank Indonesia yang menunjukkan penurunan permintaan ekspor maupun domestik.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD