AALI
9700
ABBA
286
ABDA
7375
ABMM
1380
ACES
1340
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
194
ADRO
2230
AGAR
344
AGII
1435
AGRO
1345
AGRO-R
0
AGRS
167
AHAP
69
AIMS
372
AIMS-W
0
AISA
179
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
785
AKSI
845
ALDO
1485
ALKA
346
ALMI
278
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2022/01/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.22
-0.66%
-3.34
IHSG
6591.98
-0.33%
-22.08
LQ45
938.61
-0.66%
-6.20
HSI
24127.85
0.06%
+15.07
N225
27467.23
-2.8%
-790.02
NYSE
0.00
-100%
-17219.06
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,369
Emas
837,003 / gram

Ekonom Beberkan Kelemahan Biaya Transfer Antarbank Turun Jadi Rp2.500, Apa Saja?

BANKING
Advenia Elisabeth/MPI
Rabu, 27 Oktober 2021 12:40 WIB
Bank Indonesia akan menurunkan biaya transfer antar bank menjadi Rp 2.500 dari semula Rp 6.500.
Ekonom Beberkan Kelemahan Biaya Transfer Antarbank Turun Jadi Rp2.500, Apa Saja? (FOTO:MNC Media)
Ekonom Beberkan Kelemahan Biaya Transfer Antarbank Turun Jadi Rp2.500, Apa Saja? (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia akan menurunkan biaya transfer antar bank menjadi Rp 2.500 dari semula Rp 6.500. 

Penurunan biaya transfer antar bank ini diberlakukan melalui program BI FAST Payment tahap pertama yang akan dimulai di pekan kedua Desember 2021. Program ini merupakan sistem baru yang akan menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). 

Kendati demikian, Ekonom Universitas Indonesia Telisa Falianty menyebut, dari setiap kebijakan pasti ada sisi negatifnya. Adapun sisi tersebut adalah peralihan digitalisasi bank belum sepenuhnya merata. Sebab, masih ada bank-bank konvensional yang masih bertahan pada kantor fisiknya di mana itu termasuk juga pada sistem layanannya. 

Diketahui, tidak semua masyarakat Indonesia membuka rekening pada perbankan modern atau perbankan go digital. 

Seperti masyarakat yang berada di pedesaan contohnya. Para pelaku industri maupun ritel di pelosok belum bisa memanfaatkan layanan efisien yang dicetuskan oleh Bank Indonesia. 

"Ini kan baru 22 bank yang akan di launching pada tahap awal. Jadi sisi negatifnya untuk bank-bank yang belum bisa berpartisipasi karena masalah infrastrukturnya. Berarti kan bagi nasabah bank-bank yang belum terintegrasi dengan BI Fast, mereka belum bisa menikmati fasilitas ini," ujarnya saat diskusi secara virtual, Rabu (27/10/2021). 

Mengingat baru 22 bank yang menjadi prioritas BI untuk bisa terintegrasi dengan sistem BI Fast, Telisa mengatakan, secara tidak langsung akan ada unsur perbedaan kepada bank lainnya yang belum bisa menikmati layanan tersebut. 

Walaupun kedepannya mungkin akan bisa terintegrasi, waktu perubahannya akan tetap lama karena harus memenuhi syarat dan ketentuan dari bank sentral. 

"Mungkin bank-bank lain yang belum masuk deretan 22 bank itu akan bisa terintegrasi dengan BI Fast asalkan memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan. Tapi itu kan pasti akan lama. Jadi nasabah di luar 22 bank ini mungkin akan merasa 'Loh ini kok kita belum bisa ya," gitu," paparnya. 

Adapun sisi negatif kedua adalah butuh biaya investasi. Di mana pihak perbankan harus membangun infrastruktur yang memadai dan juga melakukan investasi teknologi untuk menunjang pelayanan baru tersebut. 

"Yang kedua yaitu tentu butuh biaya investasi. Jadi kalau kita nilai, biaya investasi ini untuk infrastruktur perbankan. Tentu ada pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh pihak perusahaan. Jadi perbankan sendiri harus berinvestasi pada teknologi baru ini," sebutnya. 

Kemudian ketiga, terkait data privasi. Menurutnya, data privasi ini tetap menjadi concern, sebab akses integrasi antar bank ini akan membuka data-data antar bank juga, ini yang perlu diteliti lebih lanjut implikasinya. 

"Yang perlu menjadi concern juga soal data privasi. Ini kan transaksinya antar bank, jadi implikasinya perlu diteliti lebih lanjut terhadap data privasi. Karena sekarang ini isi privasi data menjadi sangat mengemuka di berbagai kasus aplikasi-aplikasi," jelasnya.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD