AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
0.00
-100%
-17099.21
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Inflasi Terjaga, Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga

BANKING
Michelle Natalia
Selasa, 21 September 2021 09:45 WIB
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur siang ini, Senin (21/9/2021).
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur siang ini, Senin (21/9/2021). (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur siang ini, Senin (21/9/2021). Salah satu yang akan diumumkan dari hasil RDG tersebut adalah suku bunga acuan di mana bulan lalu masih di angka 3,5 persen.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, tingkat inflasi masih relatif terjaga di bawah 2 persen. Sementara nilai tukar rupiah juga cenderung stabil di kisaran 14.200-14.300 sejak awal bulan September. 

Sementara bila dilihat dari kondisi tapering Fed pada tahun 2013, dampak tapering cenderung menekan Rupiah dan pasar SBN terutama pada saat setelah pengumuman tapering, serta periode akhir dari tapering hingga kenaikan suku bunga yang pertama. 

"Dalam 1-2 bulan terakhir, Fed sudah memberi sinyal bahwa akan memulai melakukan tapering pada akhir tahun ini, dan reaksi pelaku pasar keuangan pun cenderung tidak berlebihan karena kebijakan tapering belum tentu akan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga Fed, seperti yang terjadi pada tahun 2013 ketika taper tantrum," kata Josua di Jakarta, Selasa (21/9/2021).

Sementara itu, dari sisi domestik, inflasi mulai mengalami peningkatan secara gradual sejalan dengan kembalinya daya beli masyarakat. Namun, hingga saat ini, tingkat inflasi masih di bawah target dari BI. 

Dengan kondisi global dan domestik tersebut, BI berpotensi untuk mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun ini dan diperkirakan juga akan melakukan tapering kebijakan Quantitative Easingnya pada tahun depan merespon dan mengimbangi langkah kebijakan tapering Fed.

"Setelah itu, BI baru akan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuannya paling cepat di akhir tahun 2022 dan akan sangat tergantung pada tren inflasi domestik kedepannya," katanya.

Dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang resilient dan stabil, ditopang oleh cadangan devisa yang solid sebagai first line of defence, maka diperkirakan akan tetap menjaga iklim investasi baik di portfolio investment dan FDI sehingga akan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik di tengah proses normalisasi kebijakan moneter AS. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD