IDXChannel - Di tengah pergerakan suku bunga yang masih dinamis, perbankan nasional menghadapi tantangan untuk mempertahankan margin di tengah tekanan biaya dana yang belum juga surut.
Belakangan ini, industri perbankan masih bergulat dengan tingginya biaya dana, dipicu likuiditas yang ketat serta persaingan ketat dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK). Situasi ini membatasi ruang ekspansi margin, sehingga bank perlu semakin selektif dalam mengelola sumber pendanaan dan penyaluran kredit.
Analis Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly, menilai tekanan terhadap net interest margin (NIM) merupakan fenomena yang terjadi secara luas di industri.
“Dalam situasi suku bunga yang cenderung tinggi dan sticky, bank harus pintar menjaga keseimbangan antara cost of fund dan yield kredit. Kalau tidak dikelola dengan baik, margin bisa tergerus,” katanya.
Ia menambahkan, strategi yang umum dilakukan perbankan adalah meningkatkan porsi dana murah serta memperketat seleksi kredit.
“Bank yang mampu mengoptimalkan CASA dan menjaga kualitas aset biasanya lebih resilient dalam menjaga NIM di tengah volatilitas suku bunga,” kata dia.
Sejalan dengan kondisi tersebut, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) atau BWS mengoptimalkan strategi pengelolaan biaya dana dan penyaluran kredit guna menjaga margin tetap solid.
Perseroan menitikberatkan pada penguatan struktur pendanaan yang lebih efisien, antara lain melalui peningkatan porsi dana murah serta pengendalian biaya bunga secara disiplin.
Dari sisi aset, Bank Woori Saudara mengedepankan penyaluran kredit yang selektif dan berkualitas, sehingga imbal hasil dapat tetap optimal dengan risiko yang terjaga. Strategi ini menjadi fondasi dalam menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan profitabilitas.
Mengacu laporan bulanan, BWS, anak usaha Woori Bank asal Korea, telah menyalurkan kredit sebesar Rp42,38 triliun per Januari 2026. Sementara itu, liabilitas perseroan tercatat Rp47 triliun, dengan dominasi dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp35,47 triliun.
Sebagian likuiditas juga ditempatkan pada instrumen keuangan, seperti surat berharga dan penempatan di Bank Indonesia (BI).
Rafly menilai langkah Bank Woori Saudara tersebut sejalan dengan best practice industri.
“Pendekatan yang dilakukan BWS cukup tepat, terutama dengan fokus pada efisiensi funding dan kualitas kredit. Ini penting untuk menjaga stabilitas margin di tengah tekanan biaya dana,” tutur Rafly.
Di saat yang sama, Rafly menyarankan agar BWS harus memperkuat fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit yang prudent dan berkelanjutan.
“Strategi ini tidak hanya menjaga kinerja margin, tetapi juga memastikan ekspansi bisnis tetap berada dalam koridor risiko yang sehat,” ujarnya. (Aldo Fernando)