Sebaliknya, pertumbuhan DPK BMRI lebih banyak ditopang oleh deposito berjangka yang memiliki biaya dana lebih tinggi.
Sementara BBCA mengambil pendekatan yang lebih konservatif. Hingga Mei 2026, pertumbuhan kredit perseroan hanya mencapai 5 persen yoy, masih berada di bawah target manajemen tahun ini yang berada di kisaran 8-10 persen.
Riset Stockbit juga menyoroti belum terlihatnya dampak signifikan kenaikan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kualitas aset maupun aktivitas kredit perbankan.
Pada April dan Mei 2026, posisi kredit ketiga bank tersebut masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan Maret 2026. Kredit BMRI naik 3 persen, BBNI meningkat 4 persen, dan BBCA bertambah 1 persen.
Di saat yang sama, tren pembentukan beban provisi bulanan juga belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Kondisi ini dinilai cukup menarik mengingat kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah biasanya mendorong perbankan untuk memperlambat ekspansi kredit dan meningkatkan pencadangan sebagai langkah antisipatif.