AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20171.27
0.29%
+59.17
N225
26855.30
0.67%
+177.50
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

LPS Sebut Kondisi Perbankan RI Kuat dan Likuiditas Longgar 

BANKING
Michelle Natalia
Selasa, 12 April 2022 19:14 WIB
Setelah terpukul pandemi covid-19, perbankan nasional kini kembali bangkit. Bahkan LPS menyebut berbankan di Indonesia kuat dan likuiditas longgar.
LPS Sebut Kondisi Perbankan RI Kuat dan Likuiditas Longgar  (FOTO: MNC Media)
LPS Sebut Kondisi Perbankan RI Kuat dan Likuiditas Longgar  (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Setelah terpukul pandemi covid-19, perbankan nasional kini kembali bangkit. Bahkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut berbankan di Indonesia kuat dan likuiditas longgar.

Hal tersebut seperti diungkapkan, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa. Ia melaporkan bahwa sejauh ini ketahanan perbankan masih cukup kuat, didukung oleh tingkat permodalan yang cukup tinggi di level 25,8 persen dan likuiditas yang longgar di tengah meningkatnya tekanan eksternal yang bersumber dari ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan percepatan normalisasi kebijakan moneter bank sentral dunia.

"Per Februari 2022, total aset perbankan tumbuh 10,3 persen (yoy) ditopang oleh pertumbuhan DPK sebesar 11,1 persen (yoy). Selain itu, penyaluran kredit perbankan mampu tumbuh 6,3 persen (yoy), jauh membaik dibandingkan kondisi full year 2020, yang merupakan awal pandemi COVID-19 yang pada saat itu penyaluran kredit terkontraksi sebesar -2,4 persen," ujar Purbaya dalam Silahturahim LPS dan Perbankan di Jakarta, Selasa(12/4/2022).

Dia menyebutkan, pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dari pertumbuhan kredit, membuat likuiditas perbankan masih longgar dengan rasio LDR di level 78,0 persen.
Longgarnya likuiditas tersebut tercermin juga pada tingginya aset likuid bank yang didominasi oleh penempatan pada SBN dan pada Bank Indonesia (BI). 

"Dari sisi kualitas aset, Gross NPL terjaga di level 3,1 persen. Namun demikian, masih dibayangi potensi peningkatan risiko kredit dari kredit yang restrukturisasi dan kredit kolektibilitas 2," ungkap Purbaya. 

Saat ini, rasio Loan at Risk sebesar 19,8 persen dan rasio kredit restrukturisasi sebesar 16,4 persen. Apabila dibandingkan dengan tahun 2020, rasio risiko kredit tersebut menunjukan tren perbaikan.

"Sebagai bentuk mitigasi risiko kredit tersebut, perbankan terus memupuk CKPN secara bertahap yang telah mencapai Rp353,7 triliun per Februari 2022. Sehingga rasio coverage CKPN terhadap NPL sudah
relatif tinggi mencapai 199,4 persen," tandasnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD