Santoso menegaskan, sistem ini sudah diatur melalui standar yang ditetapkan oleh pemerintah kedua negara (Government-to-Government), sehingga lebih aman dan efisien bagi pengguna.
"Enggak perlu konversi (ke dolar). Jadi itu langsung otomatis antara dua G2G ini sudah menetapkan standarnya. Jadi sudah aman sekali. Jadi rupiah langsung diadu dengan yuan atau renminbi. Jadi ini yang membedakan," ujar dia.
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat mencoba sistem pembayaran di China, Santoso optimistis layanan ini akan semakin matang.
Ke depan, China diharapkan memiliki satu kode QR yang bisa melayani berbagai macam penyedia jasa pembayaran sekaligus (multiple pemain), serupa dengan standardisasi QRIS di Indonesia.
"Saya sebenarnya sudah pernah mencoba di sana beberapa kali enggak ada masalah. Cuma memang belum menyebar. Nanti ke depan bisnis pun akan dipererat dengan transaksi dua negara ini," katanya.
(Dhera Arizona)