Dhanny menuturkan, kebijakan pengetatan moneter yang diambil bank sentral merupakan jangkar yang krusial untuk memitigasi rambatan risiko global, terutama dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dari volatilitas eksternal.
"Kami memandang kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah pre-emptive dan forward looking Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga daya tahan perekonomian nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," ujar dia.
Meskipun iklim suku bunga tinggi berpotensi mengerek biaya dana perbankan (cost of fund), BRI optimistis daya tahan ekonomi nasional secara agregat masih berada dalam kondisi yang kokoh.
"Perseroan meyakini fundamental ekonomi domestik masih tetap resilien, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang relatif terkendali, serta aktivitas konsumsi yang masih menunjukkan tren positif," kata dia.
(NIA DEVIYANA)