Klaim kuatnya fundamental tersebut, didasarkan Agus pada tren pertumbuhan kredit secara industri yang masih positif, tingkat permodalan yang tinggi, likuiditas yang terjaga, serta rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang masih terkendali.
"Jadi persoalan yang ada pada dasatnya bukan di fundamentalnya, melainkan medan permainannya yang telah berubah," ujar Agus.
Dalam beberapa tahun terakhir, Agus menyatakan bahwa industri keuangan nasional telah menghadapi berbagai peristiwa yang sulit diprediksi, mulai dari pandemi, konflik geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional yang memengaruhi pasar keuangan.
Guna menjawab tantangan tersebut, Bank Jakarta terus menjalankan transformasi di berbagai lini bisnis, mulai dari transformasi bisnis, digitalisasi, penguatan manajemen risiko hingga pembentukan budaya kerja baru. Tak hanya itu, Agus pun menyebut bahwa tren perubahan perilaku nasabah juga turut menjadi faktor penting yang mendorong transformasi industri perbankan.
"Saat ini masyarakat tidak lagi hanya melihat produk yang ditawarkan bank, tapi juga mempertimbangkan kemudahan, kecepatan, keamanan, serta kelengkapan layanan yang tersedia. Termasuk juga ekosistem yang ditawarkan oleh bank itu sendiri," ujar Agus.