AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Ada Penarikan Besar-besaran, Afghanistan Sebut Semua Sistem Perbankan Hampir Kolaps

ECONOMICS
Anto Kurniawan/Sindonews
Rabu, 29 September 2021 08:37 WIB
Sistem perbankan Afghanistan hampir runtuh, hal tersebut diungkap oleh sata bos salah satu bank pemberi pinjaman terbesar di negara itu kepada BBC.
Ada Penarikan Besar-besaran, Afghanistan Sebut Semua Sistem Perbankan Hampir Kolaps (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Sistem perbankan Afghanistan hampir runtuh, hal tersebut diungkap oleh sata bos salah satu bank pemberi pinjaman terbesar di negara itu kepada BBC. 

Kepala Eksekutif Bank Islam Afghanistan , Syed Moosa Kaleem Al-Falahi mengatakan, industri keuangan di negara itu berada dalam cengkeraman 'krisis eksistensial' karena kepanikan yang menerpa para nasabah. 

"Ada penarikan besar yang terjadi saat ini," katanya saat berbicara dari Dubai, ketika diringa harus mengungsi akibat kekacauan di Kabul. 

"Hanya penarikan yang terjadi, sebagian besar bank tidak berfungsi, dan tidak memberikan layanan penuh," tambahnya. 

Ekonomi Afghanistan seperti diketahui tengah goyah, bahkan sebelum Taliban mengambil kendali pada bulan Agustus. Dimana ekonomi Afghanistan sangat bergantung pada bantuan asing, Bank Dunia mengungkapkan sekitar 40% dari produk domestik bruto (PDB) berasal dari bantuan internasional. 

Tetapi sejak Taliban mengambil alih pemerintahan, pihak Barat telah membekukan dana internasional, termasuk aset yang dapat diakses Afghanistan dengan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). 

Al Falahi mengungkapkan, kondisi ini mendorong Taliban untuk mencari sumber dukungan keuangan lainnya. "Mereka menantikan China dan Rusia, dan beberapa negara lain juga... Tampaknya cepat atau lambat, mereka akan berhasil menjalin dialog," katanya. 

China telah berbicara tentang keinginannya untuk membantu membangun kembali Afghanistan, dan bekerja sama dengan Taliban. Sebuah editorial baru-baru ini di Global Times yang dikendalikan China mengatakan ada "potensi besar untuk kerja sama dalam membangun kembali Afghanistan", lalu China disebut "jelas memimpin".

(SANDY)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD