AALI
9925
ABBA
290
ABDA
7000
ABMM
1380
ACES
1275
ACST
194
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
840
ADMF
7625
ADMG
188
ADRO
2310
AGAR
364
AGII
1390
AGRO
1325
AGRO-R
0
AGRS
163
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
175
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
800
AKSI
755
ALDO
1375
ALKA
314
ALMI
288
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.72
1.77%
+8.94
IHSG
6726.37
1.5%
+99.50
LQ45
959.76
1.74%
+16.42
HSI
24935.43
-0.07%
-16.92
N225
27522.26
-0.9%
-250.67
NYSE
16663.77
-0.92%
-155.21
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,345
Emas
847,450 / gram

Ada Potensi Kenaikan The Fed di 2022, LPS Sebut Indonesia Tak Perlu Khawatir

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Senin, 22 November 2021 20:06 WIB
Indonesia tidak perlu khawatir dengan tapering dan potensi kenaikan FED rate di tahun 2022.
Ada Potensi Kenaikan The Fed di 2022, LPS Sebut Indonesia Tak Perlu Khawatir (FOTO:MNC Media)
Ada Potensi Kenaikan The Fed di 2022, LPS Sebut Indonesia Tak Perlu Khawatir (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai, Indonesia tidak perlu khawatir adanya kenaikan The Fed 

Jika dicermati, data siklus bisnis AS dengan siklus bisnis Indonesia, secara historis terdapat korelasi yang positif. Ekspansi ekonomi yang positif di AS akan diikuti pula oleh ekspansi ekonomi di Indonesia.  

"Oleh sebab itu, saat ekonomi AS pulih dari resesi dan tumbuh positif, maka dampaknya akan positif pula kepada Indonesia , pengalaman yang lalu di Indonesia pasca the FED pertama kali menaikkan FED rate pada Desember 2015, kebijakan moneter nasional bisa tetap suportif dan akomodatif," kata Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Senin (22/11/2021). 

Oleh sebab itu, Indonesia tidak perlu khawatir dengan tapering dan potensi kenaikan FED rate di tahun 2022. Karena kebijakan yang akomodatif, baik di sisi fiskal maupun moneter akan mampu menjaga pemulihan ekonomi nasional untuk tetap solid di tahun 2022. 

“Namun demikian, kita harus tetap waspada dan tidak boleh lengah dalam mengantisipasi berbagai faktor ketidakpastian yang masih membayangi pemulihan ekonomi global. Beberapa faktor tersebut antara lain adanya mutasi varian baru COVID-19 seperti varian Delta Plus, energy crunch, dan supply chain constraint di beberapa negara maju,” bebernya. 

Selanjutnya dia menjelaskan, jika melihat dinamika global, The FED beberapa minggu yang lalu telah mengumumkan bahwa akhir November ini akan mulai melakukan pengurangan pembelian US Treasury sebanyak USD10 miliar dan mortgage-backed securities sebanyak USD5 miliar setiap bulannya secara gradual.  

"Hal ini menurutnya memang mengawali proses tapering di Amerika Serikat (AS), namun bukan berarti tiba-tiba kebijakan moneter AS  menjadi kontradiktif," katanya. Sebaliknya, kebijakan moneter AS tetap akomodatif, hanya saja level ekspansi moneternya dikurangi secara perlahan. 

“Selain itu, the FED telah dengan baik mengkomunikasikan kebijakan ini jauh sebelum bulan November dan pasar sudah merespon dengan baik, sehingga efek tantrum secara global tidak terjadi seperti pada tahun 2013 yang lalu. Dan, Gubernur the FED Jerome Powell juga menyatakan bahwa tapering ini tidak akan diikuti dengan peningkatan FED rate dalam waktu dekat,” jelasnya.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD