Edy menyebut keberhasilan proyek WtE akan sangat bergantung pada sistem pengelolaan sampah yang berjalan sebelum sampah masuk ke fasilitas pengolahan. Menurutnya, proses pemilahan sampah harus dilakukan secara optimal agar material yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan terlebih dahulu melalui industri daur ulang. Sementara residu yang tersisa dapat diolah menjadi energi.
Hal ini sejalan dengan posisi PSEL yang bukan merupakan solusi tunggal, tetapi menjadi bagian dalam rantai pengelolaan sampah nasional. Proses ini dimulai dari pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, daur ulang (bank sampah, kompos, maggot), kemudian residu yang benar-benar tak terolah masuk ke tahap pengolahan energi (RDF/PSEL), dengan sisa akhir yang benar-benar tak terolah kemudian dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Edy menilai kehadiran proyek WtE juga harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang lebih luas. Ia merasa pelaku usaha daur ulang perlu dilibatkan agar tercipta sinergi antara pengolahan sampah menjadi energi dan pengembangan ekonomi sirkular yang selama ini telah berjalan di berbagai daerah.
Tata Kelola Harus Jadi Perhatian Serius
Lebih lanjut, Edy menekankan tata kelola harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan proyek WtE di Bali. Menurutnya, Danantara bersama operator perlu memastikan seluruh proses berjalan secara transparan, akuntabel, dan terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah yang telah ada.
Edy menilai tata kelola yang baik tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis operasional, tetapi juga mencakup koordinasi antar pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha daur ulang, masyarakat, hingga kelompok pemulung yang selama ini menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah nasional.