sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

APBN Defisit 0,70 Persen hingga Mei 2026, Purbaya: Sangat Aman

Economics editor Anggie Ariesta
05/06/2026 14:52 WIB
Purbaya menegaskan kinerja keuangan negara sepanjang lima bulan pertama tahun ini terus menunjukkan tren positif dan berada dalam koridor yang sangat aman.
APBN Defisit 0,70 Persen hingga Mei 2026, Purbaya: Sangat Aman. Foto: iNews Media Group.
APBN Defisit 0,70 Persen hingga Mei 2026, Purbaya: Sangat Aman. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara dengan 0,70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menegaskan kinerja keuangan negara sepanjang lima bulan pertama tahun ini terus menunjukkan tren positif dan berada dalam koridor yang sangat aman.

“Paling penting lagi apa? surplusnya berapa? sampai dengan Mei defisitnya 0,7 persen, lima bulan pertama tahun ini 0,7 persen. Jadi APBN kita amat sangat aman,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Juni 2026, Jumat (5/6/2026)

Merujuk defisit saat ini, Purbaya memproyeksi total defisit hingga akhir tahun akan berada di kisaran 1,8 persen terhadap PDB. Nilai tersebut masih jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan undang-undang.

Kabar baik lainnya, kata Purbaya, juga tecermin dari posisi keseimbangan primer yang kembali menorehkan catatan positif. Berdasarkan rincian, keseimbangan primer berhasil mencetak surplus sebesar Rp58,6 triliun, berbalik dari target awal APBN yang memproyeksikan defisit Rp89,7 triliun. 

Hal ini mengindikasikan bahwa kesinambungan fiskal Indonesia semakin kuat dibandingkan periode-periode sebelumnya.

“Yang paling penting lagi adalah surplus keseimbangan primer Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya, anggaran kita lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” kata Purbaya.

Melirik sisi penerimaan, kinerja pendapatan negara tumbuh kuat sebesar 19,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan realisasi mencapai Rp1.185,0 triliun, atau setara dengan 37,6 persen dari target APBN setahun penuh yang dipatok sebesar Rp3.153,6 triliun. 

Pilar utama penopang pendapatan ini berasal dari penerimaan perpajakan yang mencatatkan Rp958,2 triliun atau tumbuh 18,9 persen (yoy). 

Secara lebih rinci, penerimaan pajak menyumbang Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen (yoy), sektor kepabeanan & cukai berkontribusi sebesar Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7 persen (yoy).

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga ikut naik ke angka Rp226,4 triliun atau 19,9 persen dari target APBN Rp459,2 triliun. 

Dari sisi pengeluaran, belanja negara tumbuh lebih cepat sebesar 34,4 persen yoy dengan realisasi mencapai Rp1.365,4 triliun. Penyerapan ini setara dengan 35,5 persen dari pagu pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Lonjakan ini dipicu oleh strategi pemerintah yang terus mempercepat penyaluran belanja sejak awal tahun.

Secara sektoral, komponen belanja pemerintah pusat mendominasi dengan realisasi Rp1.059,3 triliun atau tumbuh 52,6 persen (yoy).

Penyerapan ini terbagi secara merata, yakni Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp517,7 triliun atau 34,3 persen dari pagu atau tumbuh 58,9 persen (yoy), serta Belanja Non-K/L yang terealisasi sebesar Rp541,6 triliun atau 33,0 persen dari pagu atau tumbuh 47,0 persen (yoy). 

Di sisi lain, komponen Dana Transfer ke Daerah (TKD) tercatat mengalami sedikit koreksi tahunan sebesar 4,9 persen (yoy) dengan realisasi sebesar Rp306,1 triliun

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement