Lonjakan imbal hasil obligasi mengerek biaya pinjaman dan memperketat kebijakan, tanpa The Fed menaikkan suku bunga acuan.
"Ketua Warsh berada dalam posisi yang sangat tidak nyaman," kata Manajer Portofolio Obligasi Senior Wilmington Trust, Wil Stith, dalam sebuah wawancara.
"Pasar sebelumnya beranggapan bahwa kita tidak perlu kenaikan suku bunga The Fed karena pasar obligasi jangka panjang sudah melakukan pekerjaan untuk The Fed. Nah, sekarang Menteri Keuangan seolah-olah membalikkan anggapan itu," katanya.
Stith mencatat bahwa faktor penentu bagi The Fed adalah ke mana arah inflasi selanjutnya. Jika inflasi tetap datar atau meningkat, The Fed akan terpaksa menaikkan suku bunga lebih agresif untuk melawan dampak ekspansif dari tindakan Departemen Keuangan yang menekan imbal hasil. Hal itu dapat memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga daripada membiarkannya tidak berubah.
"Kita memiliki The Fed dan Departemen Keuangan yang pada dasarnya bergerak ke arah yang berlawanan," kata Stith. (Wahyu Dwi Anggoro)