AALI
9950
ABBA
414
ABDA
0
ABMM
1505
ACES
1280
ACST
240
ACST-R
0
ADES
3050
ADHI
1090
ADMF
7800
ADMG
195
ADRO
1925
AGAR
336
AGII
1435
AGRO
2200
AGRO-R
0
AGRS
192
AHAP
72
AIMS
454
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
965
AKRA
4230
AKSI
400
ALDO
920
ALKA
232
ALMI
246
ALTO
276
Market Watch
Last updated : 2021/12/08 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.66
0.03%
+0.16
IHSG
6627.62
0.38%
+25.05
LQ45
950.59
0.04%
+0.42
HSI
23989.26
0.02%
+5.60
N225
28722.12
0.94%
+266.52
NYSE
16853.57
1.58%
+261.60
Kurs
HKD/IDR 1,846
USD/IDR 14,405
Emas
826,722 / gram

Asosiasi Buruh Rokok Sebut Pekerja Makin Terhimpit Jika Tarif Tembakau Naik

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Jum'at, 03 September 2021 10:28 WIB
Rencana pemerintah untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2022 mendatang dipandang akan semakin menekan pekerja di sektor itu.
Asosiasi Buruh Rokok Sebut Pekerja Makin Terhimpit Jika Tarif Tembakau Naik. (Foto: MNC Media)
Asosiasi Buruh Rokok Sebut Pekerja Makin Terhimpit Jika Tarif Tembakau Naik. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Rencana pemerintah untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2022 mendatang dipandang akan semakin menekan pekerja di sektor itu. Bahkan, produksi industri hasil tembakau diprediksi bakal mengalami penurunan.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI), Sudarto, mengatakan, kondisi itu terjadi akibat dampak pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir. Apalagi, kenaikan tarif CHT sebesar 12,5 persen di 2021 menyebabkan pekerja di sektor tembakau semakin terhimpit.

“Maka itu, kami meminta Presiden Joko Widodo untuk melindungi para pekerja di sektor tembakau. Dengan demikian, mereka tidak kehilangan pekerjaannya," ujarnya saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (3/9/2021).

Adapun, kebijakan tarif CHT memang sangat berpengaruh terhadap industri dan tenaga kerja. Dia mencontohkan, tarif cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang tidak naik pada tahun ini ternyata terbukti dapat membuat industri SKT dapat bertahan hidup.

Sudarto juga menjelaskan, sebagian besar anggota RTMM SPSI adalah pekerja di sektor tembakau, khususnya di pabrik SKT. Saat ini, banyak anggotanya yang terpaksa dirumahkan dengan penghasilan yang tidak optimal akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk tidak memberikan beban tambahan lagi berupa kenaikan tarif CHT di sektor SKT pada tahun 2022.

Berdasarkan pemantauan RTMM SPSI, kata Sudarto, dampak dari kenaikan tarif CHT di segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 12,5% pada tahun ini juga telah menimbulkan penurunan produksi 6-8%. Kondisi ini makin memprihatikan karena adanya pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai.

Sudarto mengatakan, saat ini kurang lebih 30-40% anggotanya di Jawa Timur dan Jawa Tengah terkena dampak dari pandemi COVID-19.

“Anggota kami mengalami dampaknya. Ini akibat dari ketentuan ketatnya protokol kesehatan sehingga berpengaruh terhadap pengaturan kerja. Sebagian ada yang menjalani sistem shift. Adapun rata rata penurunan kurang lebih 3.000-6.000 orang per tahun,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya menyatakan sikap tegas meminta pemerintah melindungi sektor padat karya dalam membuat kebijakan tarif CHT tahun depan. Sudarto mengungkapkan, kenaikan tarif CHT yang tinggi dapat mengancam kelangsungan hidup dan kesejahteraan pekerja di sektor tembakau.

Pada 25 Agustus 2021, RTMM SPSI telah mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo untuk memohon agar pemerintah melindungi tenaga kerja di sektor tembakau.

“Langkah ini diambil setelah kami mendengar rencana pemerintah untuk menaikkan target penerimaan CHT pada Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun 2022 sebesar 11,9% atau senilai Rp203,92 triliun,” tandasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD