AALI
9950
ABBA
408
ABDA
0
ABMM
1560
ACES
1260
ACST
240
ACST-R
0
ADES
2990
ADHI
1075
ADMF
7800
ADMG
202
ADRO
1935
AGAR
328
AGII
1475
AGRO
2230
AGRO-R
0
AGRS
186
AHAP
73
AIMS
432
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1080
AKRA
4330
AKSI
400
ALDO
860
ALKA
238
ALMI
248
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/12/09 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
509.28
0.9%
+4.55
IHSG
6643.93
0.61%
+40.13
LQ45
952.51
0.73%
+6.92
HSI
24254.86
1.08%
+257.99
N225
28725.47
-0.47%
-135.15
NYSE
0.00
-100%
-16853.57
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,345
Emas
823,818 / gram

Berpotensi Gantikan Batu Bara, Bagaimana Kondisi Bahan Baku Nuklir di RI?

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Senin, 13 September 2021 16:00 WIB
Indonesia berpotensi menggunakan energi berbasis nuklir untuk menggantikan batu bara.
Indonesia berpotensi menggunakan energi berbasis nuklir untuk menggantikan batu bara.  (Foto: MNC Media)
Indonesia berpotensi menggunakan energi berbasis nuklir untuk menggantikan batu bara. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia berpotensi menggunakan energi berbasis nuklir untuk menggantikan batu bara. Berdasarkan data Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), bahan baku nuklir berupa sumber daya uranium yang dimiliki Indonesia mencapai 81.090 ton. Selain itu, ada juga thorium sebanyak 140.411 ton.

Bahan baku nuklir tersebut tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Secara rinci, Sumatera memiliki 31.567 ton uranium dan 126.821 ton thorium. Kalimantan memiliki sebanyak 45.731 ton uranium dan 7.028 ton thorium. Sulawesi memiliki 3.793 ton uranium dan 6.562 ton.

"Ini jadi salah satu opsi energi yang patut dipertimbangkan dan layak dipertimbangkan," ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dalam Market Review IDX Channel, Senin (13/9/2021).

Mamit mengatakan, pengembangan energi nuklir di Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Hal ini tercermin dari studi kelayakan dan sejumlah kajian ilmiah yang dilakukan sejumlah ilmuwan nasional.

"Saya kira sumber daya manusia kita sudah sangat mampu. Selama kita mampu dan punya keinginan yang kuat maka pengembangan energi nuklir bisa berjalan. Tentu perlu dukungan dari semua pihak," tuturnya.

Di sisi lain, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) masih banyak pertimbangan mulai dari keandalan sistem pembangkit, isu lingkungan, hingga sosial politik. Selain itu, stigma masyarakat terkait dampak buruk nuklir masih menjadi tantangan bagi pengembangan teknologi nuklir.

"Tentu kita harus tetap memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa nuklir ini mungkin akan jauh lebih aman ke depannya. Dengan teknologi yang ada maka yang harus dilakukan adalah peningkatan untuk bisa mengurangi kebocoran ataupun kendala teknis," jelas Mamit. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD