Berawal dari pembiayaan PNM Mekaar sebesar Rp2 juta pada tahun 2019 di mana Rp1 juta dipakai untuk membeli mesin jahit bekas dan sisanya untuk bahan baku, Utari kini mengelola usaha tas souvenir yang pesanannya datang dari berbagai daerah, bahkan mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus perguruan tinggi.
Kini, tujuh tahun berselang, pinjaman Utari telah tumbuh menjadi Rp8 juta, dan ia mampu membuka lapangan pekerjaan kepada empat penjahit di sekitarnya. Kini, lima tulang punggung keluarga saling bahu membahu dalam proses produksi.
Membuktikan bahwa pemberdayaan seorang perempuan mampu menggerakkan ekonomi di sekelilingnya. Direktur Utama PNM, Kindaris, melihat langsung perjuangan Utari sebagai seorang ibu rumah tangga yang mampu bangkit dari titik nol dan kini menjadi pengusaha yang mandiri. Kindaris menegaskan bahwa inilah makna sejati pemberdayaan PNM.
"Pertumbuhan bukan semata tentang angka, tetapi tentang semakin banyak perempuan prasejahtera yang memiliki kesempatan untuk bangkit, berusaha, dan memperbaiki kehidupan keluarganya. Utari adalah bukti nyata bahwa modal yang diberikan dengan cara yang tepat bukan hanya mengubah hidup satu orang, tetapi juga membuka peluang bagi orang-orang di sekitarnya," ujarnya.
Kisah Utari mencerminkan dampak nyata program PNM Mekaar yang hingga 2026 telah melayani lebih dari 23 juta nasabah di 36 provinsi, di mana 74 persen melaporkan peningkatan pendapatan dan 90 persen merasakan dampak kemandirian finansial setelah bergabung.