Data menunjukkan yield SBN tenor 10 tahun telah turun sebesar 1,76 persen sepanjang periode 30 April hingga 13 Mei 2026, menandakan pasar obligasi mulai stabil.
Di sisi lain, Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap risiko eksternal yang masih membayangi. Konflik bersenjata di Selat Hormuz antara AS dan Iran serta pergantian kepemimpinan The Fed ke tangan Kevin Warsh berpotensi membuat suku bunga AS tetap tinggi (high for longer) di tahun 2026 akibat lonjakan inflasi harga bensin di sana.
“Kami melihat di Selat Hormuz semakin memanas setelah ada kapal kargo India tenggelam di perairan lepas Pantai Oman, ini juga membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah,” jelas Ibrahim.
Ibrahim juga menyoroti tingginya beban anggaran subsidi minyak mentah dalam negeri. Ia memprediksi jika tekanan ini tidak diantisipasi secara agresif melalui kebijakan suku bunga domestik, Rupiah berisiko menembus level psikologis baru.
“Dalam perdagangan di Mei ini kemungkinan besar rupiah ke Rp18.000 per dolar AS akan tembus. Kalau seandainya tembus, ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp22.000 per dolar AS pada Agustus,” kata Ibrahim.
(Febrina Ratna Iskana)