Selain itu, risiko perubahan iklim juga bisa mempengaruhi produktivitas pertanian sehingga bisa jadi salah satu sumber volatilitas harga.
Namun demikian, berbagai tantangan itu sudah dilakukan antisipasi pihaknya bersinergi dengan pemerintah provinsi, pemerintah kota/kabupaten maupun instansi terkait lainnya. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga sudah bersinergi untuk bisa menjaga dan mengantisipasi tantangan-tantangan itu.
“Oleh karena itu, dengan potensi-potensi dan modal yang dimiliki Jateng dan didukung adanya persediaan pangan, demografi usia muda, tenaga kompetitif, basis industri yang solid dan pertumbuhan positif di sektor pariwisata, kami proyeksikan di tahun 2026 ekonomi Jateng tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen dengan inflasi tetap terjaga dalam rentang 2,5 plus minus 1 persen. Ini pastinya didukung sinergi dan kolaborasi bersama BI, pemprov maupun kota kabupaten,” kata Nita.
Dia menegaskan kolaborasi dan sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah serta menjaga momentum pertumbuhan.
Selain itu, realisasi investasi Jawa Tengah hingga September 2025 mencapai Rp66,13triliun, menunjukkan kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha daerah yang kompetitif dan produktif.