AALI
9725
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2390
ACES
800
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7700
ADHI
805
ADMF
8100
ADMG
176
ADRO
2960
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
56
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1070
AKSI
290
ALDO
860
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.46
-0.84%
-4.57
IHSG
7016.06
-0.38%
-26.88
LQ45
1010.74
-0.81%
-8.25
HSI
22229.52
2.35%
+510.46
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3 Persen di 2022

ECONOMICS
Michelle Natalia
Kamis, 23 Juni 2022 15:31 WIB
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi 3,0% pada 2022.
BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3 Persen di 2022 (Dok.MNC)
BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3 Persen di 2022 (Dok.MNC)

IDXChannel - Dengan situasi ketidakpastian global saat ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi 3,0% pada tahun 2022 meskipun akan naik kembali di tahun 2023 menjadi 3,3%.

Dia menyebutkan, kondisi yang terjadi di global perlu dicermati, diantisipasi, dan ditempuh langkah-langkah bersama, yaitu risiko-risiko terjadinya stagnasi pertumbuhan ekonomi global, dan meningkatnya inflasi pada saat yang sama. Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan risiko-risiko tersebut di skala global dan terjadi di berbagai negara.

"Yang pertama adalah risiko terkait ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan juga termasuk pengenaan sanksinya yang mengganggu pasokan energi dan pangan global serta gangguan mata rantai pasokan global. Ini yang kemudian menyebabkan tingginya harga-harga komoditas, energi, maupun harga pangan global," ujar Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis(23/6/2022).

Harga minyak pada tahun ini diperkirakan bisa mencapai rata-rata USD103 per barel. Demikian juga harga pangan juga meningkat tinggi. Ini yang kemudian menimbulkan, dari sisi pasokan, risiko perlambatan ekonomi global, dan dari sisi kenaikan harga menimbulkan risiko dan terjadinya kenaikan inflasi di berbagai belahan dunia. 

"Faktor kedua adalah pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS), dan di berbagai negara maju. Pengetatan moneter ditempuh oleh bank-bank sentral terutama di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya terus meningkat seperti di AS, dan atau di negara-negara yang karena inflasinya tinggi, disebabkan karena tidak adanya ruang fiskal atau menaikkan subsidi di negara-negara tersebut," ungkap Perry.

Tidak adanya ruang fiskal bagi negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global berdampak pada meningkatnya harga-harga di dalam negeri. Bukan hanya The Fed AS, tapi beberapa bank sentral lain di Brazil. India, Malaysia, maupun di sejumlah negara lain juga menaikkan suku bunga. 

"Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan juga menurunkan pertumbuhan ekonomi," tambah Perry. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD