AALI
12150
ABBA
189
ABDA
6250
ABMM
3040
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
5800
ADHI
695
ADMF
8075
ADMG
179
ADRO
3120
AGAR
330
AGII
1985
AGRO
915
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
62
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
935
AKRA
1015
AKSI
350
ALDO
895
ALKA
294
ALMI
294
ALTO
196
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.02
-0.41%
-2.25
IHSG
6881.13
-0.48%
-33.01
LQ45
1012.31
-0.36%
-3.62
HSI
20079.32
-0.16%
-32.78
N225
26713.08
-0.13%
-35.06
NYSE
15290.38
1.69%
+254.51
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
876,842 / gram

BI Ramal The Fed Naikkan Suku Bunga Empat Kali, Ini Dampaknya Bagi Indonesia

ECONOMICS
Dinar Fitra Maghiszha
Jum'at, 21 Januari 2022 15:08 WIB
Kenaikan suku bunga The Fed akan mempengaruhi suku bunga pinjaman di Indonesia.
Kenaikan suku bunga The Fed akan mempengaruhi suku bunga pinjaman di Indonesia. (Foto: MNC Media)
Kenaikan suku bunga The Fed akan mempengaruhi suku bunga pinjaman di Indonesia. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menganalisa empat dampak yang akan timbul apabila proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve benar terjadi tahun ini.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengumumkan skenario bank sentral Amerika Serikat bakal mengerek suku bunga acuan mulai Maret 2022.  Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa The Fed diperkirakan akanmenaikkan suku bunga hingga empat kali di 2022.

"Kenaikan Fed rate sebanyak 4 kali tentu mempengaruhi beberapa indikator makro ekonomi Indonesia," tutur Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jumat pagi (21/1/2022).

Bhima menilai bunga pinjaman di dalam negeri akan menjadi lebih mahal setidaknya naik 0,75% - 1% sampai akhir tahun, yang dapat membuat pembayaran bunga akan meningkat bagi pemegang pinjaman yang bersifat floating.

"Bank sentral biasanya melakukan antisipasi dengan naikan suku bunga mengikuti naiknya Fed rate," jelasnya.

Dampak kedua, aliran modal keluar diprediksi akan semakin deras, yang terjadi akibat aksi investor mencari aset berbasis bunga di negara maju.

Bhima mewaspadai kondisi tersebut akan mirip seperti tahun 2013 saat tapering off the Fed membuat arus dana asing beranjak ke luar dan menekan nilai tukar rupiah.

Ketiga, inflasi dalam negeri berisiko akan meningkat. Menurut Bhima, efek dari pelemahan nilai tukar akibat Fed rate naik bisa menyebabkan imported inflation atau kenaikan harga barang impor.

"Inflasi yang berlebih dapat menurunkan daya beli masyarakat," tegasnya.

Keempat, Bhima membaca beban utang pemerintah bisa semakin berat karena pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal.

Untuk mengantisipasi hal itu, terang Bhima, pemerintah perlu menekan utang dengan meningkatkan kemampuan bayar dan rasionalisasi belanja yang tidak efektif.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga menjadi waktu yang tepat bagi kreditur untuk membeli surat utang pemerintah.

"Bagi kreditur justru sebaliknya, waktu yang tepat membeli surat utang pemerintah karena kuponnya akan semakin menarik," pungkasnya.

Sebelumnya, Goldman Sachs Group Inc., memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun 2022 dan memulai untuk mengurangi neraca keuangan pada Juli.

Ekonom Goldman Sachs Jan Hatzius mengatakan pasar tenaga kerja AS mengalami kemajuan pesat yang mendorong Fed lebih hawkish terhadap situasi ekonomi.

Pertemuan bulanan Fed terdekat dijadwalkan berlangsung pada pekan depan, 25 - 26 Januari 2022. Momen ini akan menjadi perhatian bagi para pelaku pasar. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD