AALI
12925
ABBA
197
ABDA
0
ABMM
3280
ACES
1010
ACST
163
ACST-R
0
ADES
4830
ADHI
670
ADMF
8050
ADMG
187
ADRO
3310
AGAR
354
AGII
1975
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
127
AHAP
61
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
160
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1025
AKSI
232
ALDO
925
ALKA
298
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/20 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
542.40
0.61%
+3.27
IHSG
6918.14
1.39%
+94.81
LQ45
1015.18
0.69%
+6.97
HSI
20717.24
2.97%
+596.56
N225
26739.03
1.27%
+336.19
NYSE
0.00
-100%
-15044.52
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,664
Emas
870,562 / gram

Dibayangi Kebijakan The Fed, Mayoritas Bursa Asia di Zona Merah

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Rabu, 19 Januari 2022 10:19 WIB
Bursa saham di kawasan Asia sebagian besar berada di zona merah pada perdagangan Rabu pagi (19/1/2022).
Bursa saham di kawasan Asia sebagian besar berada di zona merah pada perdagangan Rabu pagi (19/1/2022).
Bursa saham di kawasan Asia sebagian besar berada di zona merah pada perdagangan Rabu pagi (19/1/2022).

IDXChannel - Bursa saham di kawasan Asia sebagian besar berada di zona merah pada perdagangan Rabu pagi (19/1/2022).

Hingga pukul 09:43 WIB, Nikkei 225 Jepang (N225) merosot -1,97% di 27.700,50 Taiwan Weighted (TWII) tertekan -0,28% di 18.326,88, S&P / ASX 200 Australia (AXJO) terpuruk -0,41% di 7.378,40, dan Shanghai Composite China (SSEC) turun -0,02% di 3.569,22.

Hang Seng Hong Kong (HSI) naik 0,42% di 24.214,62 Kospi Korea Selatan (KS11) melemah -0,22% di 2.857,88, dan Indonesia Composite Index / IHSG koreksi -0,08% di 6.608,51.

Sejumlah sentimen global menjadi penggerak pasar ekuitas di Asia Pasifik, seperti yang utama adalah meningkatnya kembali kasus varian Omicron di beberapa negara yang memicu kekhawatiran investor pasar modal untuk mengamankan aset berisiko mereka.

Selanjutnya adalah kenaikan yield obligasi Amerika Serikat yang berkontribusi terhadap aksi jual investor. Pasar masih mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter Federal Reserve AS yang lebih ketat untuk mengekang inflasi.

Tantangan dari Fed yang cenderung hawkish, dampak ekonomi dari varian omicron, serta meningkatnya inflasi di tingkat global masih menjadi perhatian utama investor.

“Secara umum, kami berharap pasar obligasi akan mendorong volatilitas di sejumlah instrumen yang lebih luas di seluruh pasar ekuitas dan lainnya,” kata Analis CreditSights Winnie Cisar kepada Bloomberg, Rabu (19/1/2022).

Lebih jauh, kenaikan harga yang juga mendorong meningkatnya harga bahan baku juga mengancam musim pendapatan tahunan perusahaan hingga paruh pertama tahun 2022.

Di AS, data menunjukkan bahwa indeks manufaktur NY Empire State turun menjadi 0,70 pada Januari. Sementara data perumahan, termasuk izin bangunan, akan dirilis pada hari ini Rabu (19/1).

Founder sekaligus analis 22V Research Dennis DeBusschere mengaku masih belum melihat ke mana arah yang jelas dari Fed untuk mengekang inflasi.

"Pertanyaan yang paling banyak ditunggu investor adalah apakah Federal Reserve AS perlu memperketat kebijakan moneter agar inflasi lebih rendah, atau jika ada pertumbuhan ekonomi akan memungkinkan bank sentral menjadi lebih lunak dalam pengetatan," katanya kepada Bloomberg, sembari mempertegas bahwa pengetatan kebijakan moneter akan mengerikan bagi saham-saham teknologi di bursa Wall Street.

Di sisi perusahaan, pendapatan perdagangan Goldman Sachs Group Inc untuk kuartal keempat tahun 2021 lebih buruk dari yang diharapkan, yang pada gilirannya dinilai membebani sejumlah emiten-emiten perbankan.

Saham Alibaba Group Holding Ltd. di bursa AS juga jatuh karena ada laporan bahwa AS sedang meninjau bisnis cloud-nya untuk mengevaluasi risiko terhadap keamanan nasional. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD