sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BI Rate Naik 100 Bps dalam Sebulan, Begini Nasib Pasar Rumah Kelas Menengah

Economics editor Rohman Wibowo
22/06/2026 03:03 WIB
Kondisi pasar yang lesu ini memaksa para pengembang komersil untuk melakukan penyesuaian taktis di lapangan.
BI Rate Naik 100 Bps dalam Sebulan, Begini Nasib Pasar Rumah Kelas Menengah. (Foto Istimewa)
BI Rate Naik 100 Bps dalam Sebulan, Begini Nasib Pasar Rumah Kelas Menengah. (Foto Istimewa)

Untuk menyiasati risiko pasar, dari total lahan yang ada, dia memutuskan untuk mengalihkan pemanfaatan sekitar 1 hektare tanah terlebih dahulu guna membangun rumah subsidi yang pasarnya relatif lebih stabil.

Langkah defensif ini juga didorong oleh fakta bahwa menjual hunian komersil seharga Rp700 juta di luar Pulau Jawa saat ini jauh lebih sulit ketimbang menawarkan rumah mewah di kisaran Rp3 miliar yang segmentasinya sudah terbentuk. 

Namun, karena mencari pembeli kelas atas di daerah tidaklah mudah, pengembang kini dihadapkan pada tekanan ganda, yakni suku bunga yang tinggi serta melambungnya harga bahan pokok material bangunan. 

Untuk mengantisipasi ketidakpastian ini pula, Andre mengimbau rekan-rekan pengembang di bawah bendera Appernas Jaya agar tidak terburu-buru melakukan transaksi pembelian lahan baru secara tunai, melainkan cukup melakukan sistem pengikatan atau pembayaran uang muka saja terlebih dahulu sembari melihat stimulus yang akan diberikan pemerintah.

Menghadapi situasi pelik ini, para pelaku usaha properti di daerah kini harus memutar otak agar bisnis mereka tidak terdampak masif. Selain menahan diri untuk tidak membeli lahan baru, mereka juga mendesak adanya intervensi dari otoritas berwenang untuk menyelamatkan industri perumahan.

"Jadi saya berharap kepada pemerintah sebagai Ketua Umum Apernas Jaya, tolonglah berikan semacam relaksasi atau apa ya terhadap para pengembang. Entah ini diperpanjang tenor," katanya.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement