Fasilitas CNG ini dirancang untuk menyuplai kebutuhan energi pada mesin boiler yang memproduksi uap bagi seluruh proses produksi vaksin dan obat-obatan. Bio Farma menerapkan sistem dual fuel, di mana CNG menjadi bahan bakar utama sementara solar tetap tersedia sebagai cadangan energi untuk memastikan kontinuitas produksi.
Transisi dari solar ke CNG diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon dioksida hingga 24 persen. Selain aspek lingkungan, implementasi fasilitas ini juga memberikan dampak positif bagi kesehatan fiskal perusahaan dengan estimasi efisiensi biaya energi mencapai 37 persen per tahun, tergantung pada utilisasi dan harga energi.
Sementara itu, Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menyambut baik sinergi ini sebagai bentuk dukungan nyata dalam perluasan pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi.
“Kolaborasi dengan Bio Farma menjadi bagian dari komitmen kami memperluas manfaat CNG ke sektor-sektor esensial yang menopang kebutuhan dasar masyarakat, termasuk kesehatan," kata Santiaji.
Menurutnya, jaminan pasokan energi yang stabil di fasilitas produksi Bio Farma merupakan faktor krusial. "Keandalan pasokan energi di fasilitas produksi seperti Bio Farma sangat penting, karena menyangkut kesinambungan produksi yang berdampak langsung pada layanan kesehatan publik," tambahnya.
(Febrina Ratna Iskana)