AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20116.20
-0.27%
-55.07
N225
26604.84
-0.27%
-72.96
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

Bisnis Korporasi Perlahan Pulih, Perry Optimis Kredit Perbankan Tumbuh

ECONOMICS
Michelle Natalia
Jum'at, 13 Mei 2022 18:24 WIB
Pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19 perlahan mulai membaik. Kondisi ini membuat Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis.
Bisnis Korporasi Perlahan Pulih, Perry Optimis Kredit Perbankan Tumbuh. (Foto: MNC Media)
Bisnis Korporasi Perlahan Pulih, Perry Optimis Kredit Perbankan Tumbuh. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19 perlahan mulai membaik. Kondisi ini membuat Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis kreditperbankan bakal kembali tumbuh pada tahun fiskal 2022 ini.

Perry memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan dapat tumbuh di kisaran 7 persen hingga 9 persen di tahun 2022. Hal ini karena dia menilai sektor perbankan semakin optimis untuk menyalurkan kredit di 2022.

Kondisi ini pun sejalan dengan pemulihan ekonomi Indonesia yang berhasil tumbuh 5,01 persen yoy di kuartal I-2022. .

"Perbankan semakin yakin, semakin confident untuk menyalurkan kredit. Alhamdulillah ekonomi kita mampu tumbuh lebih dari 5 persen," ujar Perry dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan No.38 Maret 2022 di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Optimisme perbankan untuk menyalurkan kredit di tahun 2022 didorong oleh pulihnya kinerja penjualan sektor korporasi.

Perry mengatakan bahwa pertumbuhan penjualan korporasi telah menembus 10 persen, sehingga permintaan kredit modal kerja semakin meningkat. Bahkan, kabar baik lainnya yakni scarring effect akibat pandemi COVID-19 terhadap sektor korporasi mulai berkurang. 

"Ini semua tentunya tidak lepas dari peran lembaga-lembaga yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melalui kebijakan yang mendorong kredit pembiayaan untuk sektor prioritas," ungkap Perry. 

Adapun peran dari sisi pemerintah adalah melalui program reformasi struktural dalam menyediakan iklim investasi yang kondusif, tata niaga, perpajakan, infrastruktur, digitalisasi keuangan dan implementasi Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) atau Omnibus Law. 

"Bank sentral telah melakukan reformasi struktural di pasar keuangan, pendalaman pasar keuangan, digitalisasi sistem pembayaran, dan mendukung upaya pembiayaan bagi ekonomi untuk meredam scarring effect tersebut," pungkas Perry. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD