AALI
8900
ABBA
230
ABDA
7075
ABMM
845
ACES
1415
ACST
252
ACST-R
0
ADES
1915
ADHI
1005
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1315
AGAR
422
AGII
1125
AGRO
1135
AGRO-R
0
AGRS
470
AHAP
68
AIMS
380
AIMS-W
0
AISA
238
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3200
AKSI
535
ALDO
930
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
382
Market Watch
Last updated : 2021/06/11 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
482.65
-0.44%
-2.14
IHSG
6095.50
-0.2%
-12.04
LQ45
901.64
-0.42%
-3.77
HSI
28842.13
0.36%
+103.25
N225
28948.73
-0.03%
-9.83
NYSE
0.00
-100%
-16620.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,188
Emas
866,552 / gram

Covid-19 di India Memburuk, Korban Meninggal Kini Didominasi Kaum Muda

ECONOMICS
M Sukardi/Sindonews
Jum'at, 07 Mei 2021 09:56 WIB
Penyebaran corona virus disease 2019 atau Covid-19 di India semakin memburuk. Setelah orangtua, kini korban jiwa telah memakan orang-orang di usia muda.
Covid-19 di India Memburuk, Korban Meninggal Kini Didominasi Kaum Muda. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Penyebaran corona virus disease 2019 atau Covid-19 di India semakin memburuk. Setelah orangtua, kini korban jiwa telah memakan orang-orang di usia muda.

Pradeep Gusain, pria berusia 29 tahun, siap menyambut putri pertamanya. Tapi, sebelum 'syukuran' dilangsungkan ibu Pradeep dinyatakan positif Covid-19. Alhasil, acara harus ditunda. Setelah ibunya positif, Pradeep pun tertular Covid-19.

"Awalnya sepupu saya tidak menunjukkan gejala yang serius, hanya demam tinggi. Jadi, kami pikir, karena sangat muda dan sehat, dia akan mampu melawan virus Covid-19," ungkap Ashish Ramola, sepupu Pradeep yang bekerja sebagai jurnalis di Delhi, dikutip dari Al Jazeera.

Tapi, selang beberapa hari, kondisinya mulai memburuk. Keluarga itu memiliki oksimeter dan mengukurnya di jari Pradeep. Angka yang terbaca di alat itu adalah 50, artinya Pradeep kehilangan kemampuan untuk bernapas dengan baik, karena normalnya 95 hingga 100.

"Kami buru-buru memasukkannya ke dalam mobil dan memulai pencarian rumah sakit. Ini bagaikan mimpi buruk, karena sulit sekali mendapatkan rumah sakit yang bisa menampung pasien, oksigen habis, ventilator tak tercukupi. Kami terus mengetuk pintu rumah sakit satu demi satu, dekat dan jauh, selama berjam-jam," kata Ashish.

"Tanggapannya hampir sama di mana-mana, yaitu penuh, tidak ada tempat tidur," sambungnya menjelaskan keadaan rumah sakit di India saat ini.

Saat pencarian rumah sakit untuk Pradeep terus berlanjut, pemandangan putranya yang sakit terengah-engah di belakang mobil membuat ayah Pradeep, Kamal Singh Gusain yang berusia 55 tahun, menjadi panik.

"Dia terus menangis dan memohon saya untuk membantunya. 'Nak, tolong selamatkan Pradeep,' dia terus mengulangi di antara isak tangisnya dan menelepon teman dan kerabat untuk mencari bantuan dari mereka," kenang Ashish.

Akhirnya pada 27 April, setelah kesana kemarin mencari rumah sakit, keluarga Gusain menemukan tempat tidur untuk Pradeep di sebuah klinik sekitar 40km jauhnya. Tetapi keesokan harinya, ketika mereka akhirnya berhasil membawanya ke sana, kondisinya semakin memburuk sehingga pada saat pendaftaran selesai, dia pingsan.

"Saat kami mendorongnya ke tempat tidur, dia sudah meninggal dunia," kata Ashish yang putus asa.

Ashish mengatakan penyesalan terbesarnya saat ini adalah bahwa meskipun India mengklaim sebagai 'apotek dunia' dan 'produsen vaksin terkemuka', negaranya berjuang bahkan untuk menyediakan perawatan kesehatan dasar bagi warganya sendiri.

"Selama gelombang pertama virus korona tahun lalu, pemerintah menenangkan kami dengan mengatakan bahwa kematian di negara itu rendah dan hanya orang tua yang sekarat. Tapi sekarang? Lihatlah sekeliling; sepertinya kuburan kaum muda," katanya.

Dia menambahkan, para politisi tampaknya lebih fokus pada memenangkan pemilihan daripada pada orang sakit dan sekarat. Virus itu telah aktif selama lebih dari 14 bulan di negara itu tetapi pemerintah tidak belajar apa-apa. Ada kegagalan total di semua lini.

"Dari upaya vaksinasi yang dimulai terlambat hingga rumah sakit yang kurang siap, kekurangan dokter dan staf medis, pasar gelap yang berkembang pesat untuk obat-obatan penyelamat hidup seperti remdesivir dan tabung oksigen yang dijual kepada keluarga yang putus asa dengan harga yang mengejutkan, semua ini terjadi," terangnya.

"Selain itu, ada perselisihan di antara partai politik tentang siapa yang bertanggung jawab atas salah urus Covid-19 yang mengerikan di negara itu. Tidak ada akuntabilitas; hanya 'money-passing'. Dan kami menyebut diri kami negara demokrasi terbesar di dunia. Sayang sekali," ungkap Ashish kecewa. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD