“Tentu saja ini butuh dukungan semua pihak. Ini adalah sebuah gerakan akan sadar bahwa sampah sudah menjadi masalah kehidupan kita,” terang Fadli.
Terkait perusahaan China yang memenangkan dua lokasi lelang, kedua perusahaan tersebut memiliki portofolio bisnis yang tidak sembarangan. Zhejiang Weiming Environment Protection, misalnya, perusahaan itu sudah mengoperasikan 50 unit pembangkit di China. Sedangkan Wangneng Environment mengoperasikan 30 unit pembangkit.
Fadli menambahkan, keberhasilan China mengelola sampah menjadi energi listrik patut ditiru karena mereka memiliki teknologi canggih yang terus berkembang. Terlebih lagi, di negeri panda tersebut pengembangan WTE sudah dimulai sejak 20 tahun silam.
“Dengan adanya proyek PLTSa dengan teknologi termutakhir, mereka bisa mengatasi sampah. Saat ini, kurang lebih ada 1.000 titik PLTSa di China. Bahkan, China sampai kekurangan sampah untuk diproduksi di PLTSa,” katanya.