AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Djarum Ekspansi ke Sektor Ritel dan Digital, Ada Apa dengan Bisnis Rokoknya?

ECONOMICS
Dinar Fitra Maghiszha
Rabu, 22 September 2021 17:00 WIB
Grup Djarum melakukan ekspansi dan diversifikasi bisnis dengan merambah ke sektor digital dan ritel. Bagaimana bisnis rokoknya?
Djarum Ekspansi ke Sektor Ritel dan Digital, Ada Apa dengan Bisnis Rokoknya? (Dok.MNC Media)
Djarum Ekspansi ke Sektor Ritel dan Digital, Ada Apa dengan Bisnis Rokoknya? (Dok.MNC Media)

IDXChannel  - Sebagai langkah ekspansi dan diversifikasi bisnis di tengah lesunya industri rokok, Grup Djarum perlahan mulai aktif mengakuisisi sejumlah saham perseroan.

Belakangan ini, melalui anak usahanya, PT Global Digital Niaga (GDN) atau Blibli.com, berencana mengakuisisi saham PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), demi memperluas ekosistem bisnis perseroan perusahaan e-commerce

Blibli akan mengeksekusi sebanyak 797.888.628 atau 51% saham RANC dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Saat ini, tahapan akuisisi tersebut telah diikat ke dalam Perjanjian Pengikatan Pembelian Saham (PPPS), diumumkan perseroan pada 15 September lalu.

Akuisisi ini dilakukan BliBli dari sejumlah pemegang saham RANC, seperti PT Wijaya Sumber Sejahtera, PT Prima Rasa Inti, PT Gunaprima Karyaperkasa, PT Ekaputri Mandiri, David Kusumodjojo, Suharno Kusumodjojo, dan Harman Siswanto.

Rencana pengambilalihan ini ditargetkan dapat selesai maksimal 40 hari sejak dikeluarkannya PPPS ini.

Lebih jauh lagi, baru-baru ini muncul kabar bahwa Grup Djarum, masih melalui GDN/Blibli, sedang berusaha mengambilalih sebagian besar saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan pengecer alat elektronik.

Namun, pihak ERAA menepis rumor tersebut. Head of Legal & Corporate Secretary Erajaya Swasembada, Amelia Allen menyatakan perseroan tidak mengetahui informasi apapun terkait rencana tersebut.

"Sampai dengan saat ini Perseroan tidak mengetahui informasi apapun terkait dengan adanya rencana Djarum Grup untuk mengakuisisi saham perseroan," kata Amelia dalam catatan tertulisnya, Selasa (21/9).

Bukan kali pertama pada tahun ini Grup Djarum aktif mengakuisisi sejumlah perusahaan. Melalui anak usahanya yang lain yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), Grup Djarum bakal mengambilalih setidaknya 90% saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang bergerak di bidang operasi dan penyewaan menara Base Transceiver Station (BTS) atau menara telekomunikasi.

Artinya apabila pengambilalihan ini selesai, maka kepemilikan menara TOWR bakal bertambah.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 menghantam keras bisnis industri rokok. Bukan hanya persoalan kesehatan, rencana pemerintah untuk menaikkan cukai menjadi tamparan keras bagi perusahaan rokok.

Beberapa sentra tembakau yang menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi tumpuan ekonomi daerah ikut terdampak pandemi, yang mengancam industri hasil tembakau (IHT) dan hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL).

Kementerian Keuangan sepanjang semester I-2021 melaporkan bahwa realisasi penerimaan cukai HPTL mencapai Rp298 miliar, terkontraksi 28% (yoy). Angka tersebut berbeda dengan penerimaan cukai hasil tembakau yang naik sebesar 57,85% (per Juli 2021), meskipun produksinya tergerus pandemi.

Menilik laporan keuangan sejumlah perusahaan rokok pada semester I-2021, terdapat penurunan pendapatan yang cukup signifikan. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami penurunan laba bersih sebanyak 15,29%. PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) juga masih mengalami penurunan penjualan sebesar 36,3 persen.

Sehingga menjadi wajar apabila industri rokok mulai merambah bisnis lain sebagai bentuk diversifikasi usaha.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD