Selain Sumatera Utara, sentra industri ini juga tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera Barat, Riau, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, hingga Sulawesi Selatan.
Dalam memperkuat daya saing, Kemenperin melalui Ditjen IKMA terus bersinergi dengan pemerintah daerah, akademisi, serta pelaku usaha untuk mengembangkan sentra IKM.
Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan bahan baku baja dengan komposisi tertentu, persaingan produk impor, serta kebutuhan investasi teknologi yang cukup besar.
Untuk mengatasinya, pemerintah menjalankan berbagai program, mulai dari fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, restrukturisasi mesin, hingga kemitraan dengan penyedia teknologi.
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari menyampaikan bahwa IKM perkakas tangan memiliki potensi besar menjadi mitra industri besar, BUMN, maupun pemerintah daerah, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Sebagai contoh, PT Sarana Panen Perkasa (SPP) di Medan yang memproduksi alat panen perkebunan seperti egrek, dodos, dan aneka pisau, telah memiliki sertifikasi SNI dan TKDN. Produk perusahaan tersebut juga telah diekspor ke berbagai negara, antara lain Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.
“Dalam dua tahun terakhir, PT SPP siap meningkatkan kapasitas produksi dengan dukungan pasokan bahan baku berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel,” ujar Dini.
Penulis: Nasywa Salsabila
(Dhera Arizona)