sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ekonom Ingatkan Risiko Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Economics editor Anggie Ariesta
03/09/2026 20:31 WIB
Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan telah mencatatkan angka minus 3,3 persen.
Ekonom Ingatkan Risiko Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi. Foto: iNews Media Group.
Ekonom Ingatkan Risiko Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyoroti potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit) di tengah ketidakpastian perekonomian global, menyusul tren penurunan surplus neraca perdagangan barang.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan meskipun nilai tukar rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.700 per USD akibat pelemahan indeks dolar AS, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan terhadap kondisi neraca transaksi berjalan.

"Sebagaimana yang kita ketahui bersama, saya akan highlight bagaimana yang perlu kita hadapi ke depan adalah pelebaran defisit dari current account itu sendiri, di mana ketika neraca perdagangan barang kita surplusnya semakin mengecil tentunya tekanannya akan semakin besar kepada current account defisit kita," kata Asmo, sapaannya, pada paparan Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Kamis (3/9/2026).

Asmo menambahkan pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan telah mencatatkan angka minus 3,3 persen. Menurutnya, terdapat dua komponen utama yang perlu diwaspadai ke depan, yakni defisit pada neraca jasa serta neraca pendapatan primer (primary income).

"Kemarin di kuartal II current account defisit sudah minus 3,3 persen yang perlu diwaspadai ke depan adalah defisit neraca jasa dan neraca primary income," ujarnya.

Neraca pendapatan primer merefleksikan besarnya pembayaran dividen maupun repatriasi pendapatan (income repatriation) yang dalam beberapa periode terakhir mengalami peningkatan defisit cukup tinggi.

"Jadi kalau neraca perdagangan barangnya kemudian surplusnya mengecil tentu saja belum semakin besar dan semakin tidak bisa menutup yang namanya neraca jasa dan primary income dan akan menghasilkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar," tutur Asmo.

Untuk menutupi defisit transaksi berjalan yang kian membesar tersebut, perekonomian Indonesia butuh ditopang oleh surplus yang signifikan dari neraca finansial (financial account), baik melalui investasi langsung (direct investment) maupun investasi portofolio di pasar saham dan obligasi.

Di sisi lain, Asmo menilai sejumlah langkah antisipatif yang ditempuh Bank Indonesia (BI) berhasil memberikan bantalan positif bagi nilai tukar rupiah dan arus modal masuk (capital inflows).

"Langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank Indonesia memang ini kemudian memberikan efek yang cukup positif kepada ketahanan nilai tukar kita ya kemudian bisa mendorong capital inflows juga buat Indonesia," ujar dia.

Efek positif tersebut antara lain ditopang oleh kesepakatan swap (swap agreement) BI dengan bank sentral negara mitra, serta keagresifan BI dalam memperluas kerja sama transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement