IDXChannel - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyoroti potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit) di tengah ketidakpastian perekonomian global, menyusul tren penurunan surplus neraca perdagangan barang.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan meskipun nilai tukar rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.700 per USD akibat pelemahan indeks dolar AS, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan terhadap kondisi neraca transaksi berjalan.
"Sebagaimana yang kita ketahui bersama, saya akan highlight bagaimana yang perlu kita hadapi ke depan adalah pelebaran defisit dari current account itu sendiri, di mana ketika neraca perdagangan barang kita surplusnya semakin mengecil tentunya tekanannya akan semakin besar kepada current account defisit kita," kata Asmo, sapaannya, pada paparan Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Kamis (3/9/2026).
Asmo menambahkan pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan telah mencatatkan angka minus 3,3 persen. Menurutnya, terdapat dua komponen utama yang perlu diwaspadai ke depan, yakni defisit pada neraca jasa serta neraca pendapatan primer (primary income).
"Kemarin di kuartal II current account defisit sudah minus 3,3 persen yang perlu diwaspadai ke depan adalah defisit neraca jasa dan neraca primary income," ujarnya.