IDXChannel - Ekonomi dunia terancam kehilangan USD380 miliar atau sekitar Rp6.700 triliun tahun ini karena ketidakpastian perdagangan menghambat investasi bisnis.
Dilansir dari Anadolu Agency pada Selasa (23/6/2026), angkanya lebih tinggi dari kerugian investasi bisnis global sebesar USD202 miliar yang dialami tahun lalu.
Menurut Sekretaris Jenderal Kamar Dagang Internasional (ICC) John Denton,
ekonomi dunia sedang mengalami perubahan besar dalam hal perdagangan global. Skalanya lebih besar dibandingkan saat pandemi dan krisis finansial global.
"Menurut studi yang ditugaskan ICC kepada Oxford Economics, ketidakpastian ini menghapus investasi bisnis global setara dengan USD202 miliar pada 2025 saja, mengurangi pertumbuhan investasi menjadi hanya 0,4 persen," ujarnya.
"Jika volatilitas meningkat, kerugian dapat berlipat ganda menjadi sekitar USD380 miliar pada 2026," katanya.
Pada 2025, perdagangan dunia menghadapi gejolak tarif akibat kebijakan bea masuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tahun ini, situasinya diperparah dengan parang antara AS-Israel dengan Iran yang menghambat pasokan minyak dan mengguncang pasar energi.
"Bagi bisnis, masalah intinya adalah ketidakpastian, termasuk siklus berhenti-mulai tarif," kata Denton.
“Namun di luar tarif, pergeseran yang lebih penting adalah pengejaran tujuan geoekonomi, dengan pemerintah secara aktif membentuk ketergantungan pasokan, bukan sekadar mengatur arus perdagangan,” katanya.
Dia menambahkan bahwa jalur maritim penting seperti Selat Hormuz telah menjadi alat tekanan geoekonomi.
“Apa yang terjadi di sana bukan hanya guncangan energi, tetapi guncangan harga dan pasokan yang menghantam bahan bakar, input industri, dan ketahanan pangan sekaligus,” ujarnya. (Wahyu Dwi Anggoro)