Pada 2025, perdagangan dunia menghadapi gejolak tarif akibat kebijakan bea masuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tahun ini, situasinya diperparah dengan parang antara AS-Israel dengan Iran yang menghambat pasokan minyak dan mengguncang pasar energi.
"Bagi bisnis, masalah intinya adalah ketidakpastian, termasuk siklus berhenti-mulai tarif," kata Denton.
“Namun di luar tarif, pergeseran yang lebih penting adalah pengejaran tujuan geoekonomi, dengan pemerintah secara aktif membentuk ketergantungan pasokan, bukan sekadar mengatur arus perdagangan,” katanya.
Dia menambahkan bahwa jalur maritim penting seperti Selat Hormuz telah menjadi alat tekanan geoekonomi.
“Apa yang terjadi di sana bukan hanya guncangan energi, tetapi guncangan harga dan pasokan yang menghantam bahan bakar, input industri, dan ketahanan pangan sekaligus,” ujarnya. (Wahyu Dwi Anggoro)