Dengan pertumbuhan impor yang masih melampaui ekspor, ruang penyangga eksternal Indonesia relatif tipis. Kondisi ini juga membuat surplus perdagangan hanya memberikan dukungan terbatas terhadap nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, tekanan inflasi kembali meningkat pada Agustus 2026. Inflasi umum tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sekaligus membalikkan deflasi yang terjadi pada Juli.
Kenaikan terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak, termasuk harga daging ayam, cabai rawit, dan beras.
Tekanan juga terlihat pada inflasi inti yang meningkat menjadi 2,92 persen secara tahunan dari 2,76 persen pada Juli. Di sisi lain, inflasi harga yang diatur pemerintah memberikan sedikit penahan setelah harga bensin dan tiket pesawat turun, sehingga kelompok tersebut mengalami deflasi 0,33 persen.
Menurut BCA Sekuritas, perkembangan tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai semakin luas dan tidak lagi hanya berasal dari beberapa komoditas pangan.