"Sebagian besar pakar menilai pemulihan pada 2023 bersifat sementara, tetapi ada juga faktor-faktor positif, seperti kemungkinan pertumbuhan lebih lanjut dalam perdagangan dengan China dan perluasan kerja sama ekonomi dengan Rusia," kata BOK.
Pyongyang dan Moskow baru-baru ini untuk memperluas kerja sama dalam hal perdagangan, ekonomi, dan investasi. Presiden Rusia Vladimir Putin menyambangi negara pimpinan Kim Jong Un tersebut bulan lalu.
Pada 2023, perdagangan dengan China mencapai 98,3 persen dari total volume perdagangan Korut, menurut BOK.
Perkiraan yang dibuat BOK dianggap sebagai indikator kondisi ekonomi Korut yang dapat diandalkan. Bank sentral Korsel tersebut mulai memantau perekonomian rivalnya tersebut sejak 1991. (Wahyu Dwi Anggoro)