AALI
9425
ABBA
276
ABDA
0
ABMM
2440
ACES
740
ACST
190
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
790
ADMF
8175
ADMG
174
ADRO
3190
AGAR
314
AGII
2300
AGRO
830
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
95
AIMS
280
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1575
AKRA
1190
AKSI
274
ALDO
755
ALKA
288
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
538.68
-0.69%
-3.72
IHSG
7129.28
-0.43%
-31.11
LQ45
1012.04
-0.62%
-6.29
HSI
20175.62
0.46%
+93.19
N225
28546.98
2.62%
+727.65
NYSE
15602.93
0.32%
+50.23
Kurs
HKD/IDR 205
USD/IDR 14,795
Emas
850,422 / gram

Green Economy Jadi Fokus Utama Investasi, Ini Alasan Bahlil

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Selasa, 24 Agustus 2021 12:08 WIB
Alasan Indonesia menjadikan green energi sebagai fokus utama dalam arah kebijakan investasi karena sumber daya alam (SDA) di sektor energi yang melimpah.
Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia mampu berkontribusi ke  dunia di sektor energi hijau.
Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia mampu berkontribusi ke dunia di sektor energi hijau.

IDXChannel - Gagasan green economi (ekonomi hijau) terus digaungkan pemerintah setelah adanya reformasi regulasi di bidang investasi dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Sebuah gagasan yang diklaim mampu meningkatkan kesejahteraan dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan

Bahkan, Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia mampu berkontribusi kepada dunia di sektor energi hijau. 

Hilirisasi green energi, kata dia, menjadi prioritas utama Kementerian Investasi yang dinilai sejalan dengan arah kebijakan negara saat ini. 

"Karena itu, arah kebijakan negara di Kementerian Investasi di sektor apa saja yang menjadi prioritas sekarang adalah sektor hilirisasi, dimana, terjadi industri-industri yang berbasis pada energi hijau," ujar Bahlil dalam gelaran Indonesia Investment 2021, Selasa (24/8/2021). 

Alasan Indonesia menjadikan green energi sebagai fokus utama dalam arah kebijakan investasinya karena sumber daya alam (SDA) di sektor energi yang melimpah. Dimana, ketersediaan atau cadangan nikel dunia terbesar berada di Indinesia dengan persentase sebanyak 24-25 persen, kemudian kobalt, mangan (nanganese), dan lithium. 

Bahlil mencatat, sumber energi tersebut akan dimanfaatkan negara dalam produksi kendaraan mobil listrik berbasis baterai atau Electric Vehicle (EV). Untuk pabrik baterai sel (battery cell) kendaraan listrik mulai dibangun sejak akhir Juli kemarin dan akan mulai beroperasi dan berproduksi pada 2023 mendatang.

Pabrik battery cell tersebut merupakan proyek investasi antara konsorsium asal Korea Selatan LG dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), di mana pada tahap pertama, kapasitas produksinya akan mencapai 10 giga watt per hour.

"Saya yakinkan bahwa ketika industri baterai dibangun di Indonesia, maka keyakinan saya bahwa akan memberikan nilai tambah dan melahirkan biaya produksi yang sangat efisien," katanya. 

Alasan lain adalah Indonesia mempunyai potensi energi baru terbarukan (EBT) yang besar. Tercatat, ada 12,000 MW yang berada di Kayan, Kalimantan Utara. Kemudian, 23,000 MW untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). 

"Dan sekarang Indonesia lagi membanbung kawasan industri hijau di kawasan Kalimantan Utara dan membangun kawasan Industri yang dekat dengan lokasinya di Jawa Tengah yaitu Batang," tutur Bahlil. (NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD