Untuk menyiasati kondisi tersebut, Syahrul mengaku akan mencari sumber pendapatan tambahan di luar pekerjaan utamanya sebagai pengemudi ojol.
"Paling kita ya misalkan ada sampingan yang lain buat kita selain ojol, misalkan, selain ngojol, ya kita ambil, Pak, gitu kan. Tapi kalau enggak ada yaitu ya, mau enggak mau kita siasatin sendiri juga dengan cara lain," ujarnya.
Syahrul pun berharap pemerintah dapat menahan laju kenaikan harga BBM di masa mendatang agar tidak semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
"Buat kita ya, jangan terlalu tinggi lah, jangan terlalu dinaikin, karena banyak masyarakat di bawah, khususnya kita para ojol gitu kan, atau yang di bawah ojol gitu kan, kalau bisa jangan naik," kata dia.
Keluhan serupa disampaikan Ijong, warga Kebayoran yang mengaku sesekali menggunakan BBM Pertamax meski sehari-hari lebih sering memakai Pertalite. Dia menilai kenaikan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter terlalu drastis dan memberatkan masyarakat.