IDXChannel - Lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang membentuk dinamika ekonomi global sepanjang semester I 2026. Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dinilai memicu gejolak di pasar keuangan sekaligus memengaruhi arah kebijakan moneter berbagai negara.
Chief Economist PT Bahana TCW Investment Management, Emil Muhamad, mengatakan kondisi ekonomi global pada awal tahun sebenarnya berada dalam situasi yang cukup baik. Namun, pecahnya konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 40 persen dan mengubah lanskap perekonomian global.
"Kalau kita diminta merangkum apa sih yang terjadi sampai bulan Juli, Januari dan Februari ekonomi global bisa dibilang cukup sehat. Kemudian datang perang di Timur Tengah yang membuat harga energi, harga minyak naik lebih dari 40 persen," ujar Emil dalam acara CIMB Niaga Wealth Talks! Global Pressures, Domestic Realities: Economics Insights to Start The Second Semester 2026, Rabu (5/8/2026).
Menurut Emil, Indonesia termasuk negara yang terdampak negatif karena masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan nasional.
"Indonesia termasuk negara yang dirugikan, bukan diuntungkan. Karena Indonesia adalah salah satu negara importir minyak. Kita ini memang produksi minyak tapi produksi kita belum mencapai kebutuhan konsumsi domestik. Karena Indonesia adalah negara konsumen minyak, importir minyak, maka pasar keuangan kita juga terdampak secara negatif ketika harga minyak itu naik," lanjutnya.
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak juga memengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara. Sejumlah otoritas moneter yang sebelumnya bersiap menurunkan suku bunga akhirnya memilih menahan, bahkan mempertimbangkan kembali kenaikan suku bunga guna mengendalikan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Selain berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara, kenaikan harga minyak turut meningkatkan biaya avtur yang digunakan maskapai penerbangan. Sementara di Indonesia, pemerintah masih berupaya meredam dampak kenaikan tersebut, termasuk pada harga BBM nonsubsidi yang penyesuaiannya dilakukan secara bertahap.
Meski demikian, Emil menilai gejolak yang terjadi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai perubahan struktural dalam perekonomian global. Menurutnya, tekanan tersebut berpotensi mereda apabila konflik geopolitik berhasil diselesaikan sehingga harga minyak kembali turun.
"Jadi kalau ditanya apakah ini menjadi sesuatu yang struktural? Di tahap ini kita belum percaya ini struktural. Karena kalau misalkan konfliknya berakhir, katanya Trump mau mengadakan deal ya antara hari ini atau besok gitu, let's see. Kalau misalkan deal-nya terjadi, mungkin harga minyak turun, harga-harga BBM turun, sehingga tekanan terhadap Indonesia juga bisa jadi akan berkurang," lanjut Emil.
Ia menambahkan volatilitas pasar yang tinggi selama enam bulan pertama tahun ini berpeluang menurun apabila ketegangan geopolitik mereda. Dengan demikian, tekanan terhadap dunia usaha maupun masyarakat diharapkan tidak berlanjut dalam jangka panjang.
"Kita lihat ini belum struktural, masih ada harapan bahwa ini bisa mereda dalam waktu dekat," tandasnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)