"Lonjakan harga pada area regional mencerminkan pergeseran permintaan ke arah hunian yang lebih efisien dan terjangkau secara harga total (lump sum), namun memiliki nilai strategis tinggi. Ini adalah indikator kuat bahwa first-time buyers dan investor mikro masih sangat aktif," ujar Head of Research Rumah123 Marisa Jaya dalam pernyataan resminya, Sabtu (22/3/2026).
Salah satu poin paling krusial pada Februari 2026 adalah penurunan volume suplai yang mencapai 7,8 persen secara tahunan (YoY). Penurunan suplai di tengah koreksi harga tipis mengindikasikan adanya fenomena market resistance, di mana pemilik properti memilih untuk menahan aset mereka (hold) daripada menjual di harga yang dianggap belum optimal.
Marisa Jaya menerangkan, penurunan suplai ini adalah sinyal penting bagi pasar. Jika suplai terus menyusut sementara minat pencarian tetap stabil seperti di Tangerang (14,8 persen) dan Jakarta Selatan (12,4 persen), maka kemungkinan besar sedang mendekati fase bottoming out.
"Ketika suku bunga BI di level 4,75 persen mulai tertransmisi penuh ke bunga KPR, potensi rebound pasar bisa terjadi lebih cepat," kata dia.