AALI
9650
ABBA
248
ABDA
0
ABMM
2350
ACES
785
ACST
168
ACST-R
0
ADES
7125
ADHI
800
ADMF
8050
ADMG
175
ADRO
2870
AGAR
320
AGII
2080
AGRO
700
AGRO-R
0
AGRS
121
AHAP
57
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
150
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1500
AKRA
1035
AKSI
294
ALDO
875
ALKA
296
ALMI
306
ALTO
202
Market Watch
Last updated : 2022/06/29 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
531.18
-1.2%
-6.43
IHSG
6942.35
-0.77%
-54.11
LQ45
995.71
-1.18%
-11.93
HSI
21996.89
-1.88%
-422.08
N225
26804.60
-0.91%
-244.87
NYSE
14667.32
-1.13%
-167.98
Kurs
HKD/IDR 1,890
USD/IDR 14,848
Emas
867,193 / gram

Harga TBS Anjlok hingga Rp300 per KG, Serikat Petani: Ini Sudah Darurat

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Jum'at, 24 Juni 2022 14:46 WIB
Serikat Petani Indonesia (SPI) mengeluhkan soal harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang makin anjlok.
Harga TBS Anjlok hingga Rp300 per KG, Serikat Petani: Ini Sudah Darurat (Dok.MNC)
Harga TBS Anjlok hingga Rp300 per KG, Serikat Petani: Ini Sudah Darurat (Dok.MNC)

IDXChannel - Serikat Petani Indonesia (SPI) mengeluhkan soal harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit tak kunjung naik. Padahal sudah satu bulan Presiden Jokowi mencabut larangan ekspor crude palm oil (CPO).

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry mengatakan, di Pasaman Barat, Sumatera Barat, contohnya harga TBS jatuh ke level Rp600 per kilogram.

"Ini sudah sangat luar biasa, sawit yang jadi komoditas ekspor seperti tidak ada harganya sama sekali," ujar Henry dalam keterangan tertulisnya dikutip, Jumat (24/6/2022).

Henry memaparkan, harga TBS sawit yang diterima para petani SPI di wilayah lain juga serentak mengalami tren penurunan yang signifikan.

Seperti di Tanjung Jabung Timur, harga TBS mencapai di bawah Rp500 per kilogram.

"Ini kan sudah kelewatan. Laporan hari ini ada yang sampai Rp300 per kilogram," sambungnya.

Berkaca dari kejadian itu, Henry mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan responsif dan solutif.

"Ini sudah darurat. Petani sawit sudah menjerit, sudah pada titik nadir, harga TBS jauh di bawah harga impasnya, ini artinya petani sudah sangat merugi, keterlaluan," ungkapnya.

Henry menjelaskan, penyebab anjloknya harga TBS ini karena Indonesia dibawah cengkraman korporasi global sawit.

"Kami mendesak agar pemerintah membangun sistem persawitan di Indonesia yang tidak tergantung dari pasar internasional yang dikuasai oleh korporasi-korporasi global. Hajat hidup petani, orang banyak, dikuasai oleh cukong-cukong transnasional perseorangan yang pemerintah kita pun hampir tidak berdaya melawannya," paparnya.

Oleh sebab itu, SPI meminta pemerintah melalui penegak hukum agar segera menindak perusahaan sawit yang membeli TBS di bawah harga pemerintah.

"Jadi kalau ada pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli dengan TBS petani dengan harga rendah harus ditindak. Bukan tidak memungkin agar PKS tersebut ditutup, lalu diambil alih oleh pemerintah, ini levelnya udah level krisis. Lebih lanjutnya, izin ekspor perusahaannya dicabut juga. Dana segar yang ada di di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bisa dialokasikan untuk atasi masa krisis ini, bukan hanya memanjakan korporasi," papar Henry. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD