“Konflik singkat mungkin akan menyebabkan harga minyak dan gas melonjak sebelum akhirnya pasar menyesuaikan diri, sementara konflik yang berkepanjangan dapat membuat energi tetap mahal dalam waktu lama dan membebani negara-negara yang bergantung pada impor,” kata IMF.
“Banyak hal bergantung pada berapa lama konflik berlangsung, seberapa luas penyebarannya, dan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkannya pada infrastruktur dan rantai pasokan,” katanya.
Sekitar sepertiga produksi pupuk melewati Selat Hormuz, sehingga mendorong kenaikan harga. Proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan bahwa harga pupuk global rata-rata bisa 15 persen hingga 20 persen lebih tinggi pada paruh pertama 2026 jika krisis berlarut-larut. (Wahyu Dwi Anggoro)