Menurut dia, tantangannya adalah mengubah keindahan alam menjadi destinasi yang mudah dijangkau, aksesibilitas menjadi pengalaman wisata, pengalaman menjadi belanja wisatawan, hingga belanja menjadi investasi dan lapangan kerja.
James menegaskan sebagian besar modal dasar pariwisata Indonesia telah tersedia, mulai dari pantai, laut, lokasi selam dan selancar kelas dunia, ribuan pulau, gunung berapi, hutan, kekayaan budaya, kuliner, hingga masyarakat yang dikenal ramah. Namun, potensi tersebut belum selalu ditopang ekosistem pariwisata yang memadai.
Indonesia dinilai masih perlu memperkuat konektivitas penerbangan, kapasitas hotel, transportasi publik, pusat perbelanjaan, restoran, penyelenggaraan acara, kebersihan destinasi, kemudahan perjalanan, konektivitas digital, serta konsistensi promosi.
“Potensi itu sudah kita bicarakan selama puluhan tahun. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi jumlah kedatangan wisatawan, masa tinggal yang lebih panjang, belanja yang lebih besar, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang,” ujarnya.
Di tengah tekanan pertumbuhan ekonomi global, tingginya biaya modal, dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah, James menilai pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat memberikan hasil ekonomi relatif cepat. Selain kecerdasan buatan, teknologi, dan perumahan, pariwisata dinilai layak mendapat tempat lebih besar dalam strategi pertumbuhan nasional.