Menurut James, pembangunan pariwisata tidak harus selalu dimulai dengan proyek berskala besar. Pembukaan satu rute penerbangan baru, pembangunan marina, penyempurnaan kebijakan visa, kampanye media sosial, pengembangan kawasan belanja, hingga perbaikan akses dari bandara dapat memberikan dampak ekonomi yang besar.
James mengatakan fenomena tersebut memperlihatkan perubahan cara wisatawan memilih destinasi. Arus wisata tidak lagi hanya digerakkan kampanye konvensional, tetapi juga konten di TikTok dan Instagram. Ketika sebuah tempat, makanan, atau pengalaman menjadi viral, ribuan orang dapat terdorong datang dan merasakan pengalaman serupa.
James menilai pengalaman Singapura dan Qatar menunjukkan bahwa pariwisata dapat dikembangkan melalui kombinasi konektivitas, infrastruktur, perhotelan, penyelenggaraan acara, pelayanan, dan pencitraan global. Hal ini menunjukkan Indonesia tidak hanya perlu mengandalkan kekayaan alam, tetapi juga kemampuan mengemasnya menjadi produk wisata yang kompetitif.
Pariwisata, lanjut James, memiliki daya ungkit luas terhadap perekonomian karena menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan berbagai sektor, mulai dari hotel, restoran, transportasi, ritel, kuliner, kerajinan, hiburan hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Pariwisata bukan semata-mata mengenai wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, devisa, kewirausahaan, dan kepercayaan diri bangsa,” ujar James.