sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Indonesia Perlu Dorong Potensi Destinasi Wisata Jadi Devisa

Economics editor Rahmat Fiansyah
11/09/2026 21:50 WIB
Pembangunan pariwisata harus fokus pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, hingga pengalaman wisata berkualitas.
Pembangunan pariwisata harus fokus pada penguatan ekosistem mulai dari transportasi, akomodasi, hingga pengalaman wisata berkualitas. (Foto: Ist)
Pembangunan pariwisata harus fokus pada penguatan ekosistem mulai dari transportasi, akomodasi, hingga pengalaman wisata berkualitas. (Foto: Ist)

IDXChannel - Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sulit ditandingi negara lain. Kendati demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi kunjungan wisatawan, devisa, investasi, dan lapangan kerja.

Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady mengatakan pembangunan pariwisata harus difokuskan pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, promosi, layanan, serta pengalaman wisata berkualitas.

Hal itu disampaikan James dalam pembukaan Kadin Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Ruang Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11/9/2026). Acara tersebut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, para duta besar, kepala daerah, jajaran Kadin, perwakilan kamar dagang asing, investor, pengusaha, serta praktisi industri pariwisata.

Forum tersebut mencatat kehadiran perwakilan dari 67 negara, terdiri atas 39 duta besar dan 28 anggota korps diplomatik lainnya. Menurut James, jumlah tersebut merupakan partisipasi diplomatik terbesar sejak Kadin menyelenggarakan forum sarapan ekonomi bulanan.

“Indonesia sesungguhnya tidak memiliki masalah dengan aset pariwisata. Kita menghadapi persoalan konversi,” kata James. 

Menurut dia, tantangannya adalah mengubah keindahan alam menjadi destinasi yang mudah dijangkau, aksesibilitas menjadi pengalaman wisata, pengalaman menjadi belanja wisatawan, hingga belanja menjadi investasi dan lapangan kerja.

James menegaskan sebagian besar modal dasar pariwisata Indonesia telah tersedia, mulai dari pantai, laut, lokasi selam dan selancar kelas dunia, ribuan pulau, gunung berapi, hutan, kekayaan budaya, kuliner, hingga masyarakat yang dikenal ramah. Namun, potensi tersebut belum selalu ditopang ekosistem pariwisata yang memadai.

Indonesia dinilai masih perlu memperkuat konektivitas penerbangan, kapasitas hotel, transportasi publik, pusat perbelanjaan, restoran, penyelenggaraan acara, kebersihan destinasi, kemudahan perjalanan, konektivitas digital, serta konsistensi promosi. 

“Potensi itu sudah kita bicarakan selama puluhan tahun. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi jumlah kedatangan wisatawan, masa tinggal yang lebih panjang, belanja yang lebih besar, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang,” ujarnya.

Di tengah tekanan pertumbuhan ekonomi global, tingginya biaya modal, dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah, James menilai pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat memberikan hasil ekonomi relatif cepat. Selain kecerdasan buatan, teknologi, dan perumahan, pariwisata dinilai layak mendapat tempat lebih besar dalam strategi pertumbuhan nasional.

Menurut James, pembangunan pariwisata tidak harus selalu dimulai dengan proyek berskala besar. Pembukaan satu rute penerbangan baru, pembangunan marina, penyempurnaan kebijakan visa, kampanye media sosial, pengembangan kawasan belanja, hingga perbaikan akses dari bandara dapat memberikan dampak ekonomi yang besar.

James mengatakan fenomena tersebut memperlihatkan perubahan cara wisatawan memilih destinasi. Arus wisata tidak lagi hanya digerakkan kampanye konvensional, tetapi juga konten di TikTok dan Instagram. Ketika sebuah tempat, makanan, atau pengalaman menjadi viral, ribuan orang dapat terdorong datang dan merasakan pengalaman serupa.

James menilai pengalaman Singapura dan Qatar menunjukkan bahwa pariwisata dapat dikembangkan melalui kombinasi konektivitas, infrastruktur, perhotelan, penyelenggaraan acara, pelayanan, dan pencitraan global. Hal ini menunjukkan Indonesia tidak hanya perlu mengandalkan kekayaan alam, tetapi juga kemampuan mengemasnya menjadi produk wisata yang kompetitif.

Pariwisata, lanjut James, memiliki daya ungkit luas terhadap perekonomian karena menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan berbagai sektor, mulai dari hotel, restoran, transportasi, ritel, kuliner, kerajinan, hiburan hingga usaha mikro, kecil, dan menengah. 

“Pariwisata bukan semata-mata mengenai wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, devisa, kewirausahaan, dan kepercayaan diri bangsa,” ujar James.

James berharap pertemuan yang mempertemukan pemerintah, korps diplomatik, kepala daerah, investor, pengusaha, praktisi, serta jajaran Kadin tersebut menghasilkan gagasan yang dapat segera diterjemahkan menjadi tindakan nyata. 

“Kita harus lebih terencana dalam mengubah keunggulan alam dan budaya Indonesia menjadi kegiatan ekonomi. Karena itulah, Kadin meyakini pariwisata layak memperoleh tempat yang jauh lebih besar dalam strategi pertumbuhan Indonesia,” katanya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement