AALI
9750
ABBA
226
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1470
ACST
290
ACST-R
0
ADES
1675
ADHI
1175
ADMF
8075
ADMG
167
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1110
AGRO
940
AGRO-R
0
AGRS
456
AHAP
71
AIMS
530
AIMS-W
0
AISA
280
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3370
AKSI
785
ALDO
890
ALKA
254
ALMI
236
ALTO
320
Market Watch
Last updated : 2021/05/06 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
472.68
-0.2%
-0.95
IHSG
5970.24
-0.09%
-5.67
LQ45
888.95
-0.17%
-1.47
HSI
28637.46
0.77%
+219.46
N225
29331.37
1.8%
+518.74
NYSE
16348.41
0.36%
+59.14
Kurs
HKD/IDR 1,841
USD/IDR 14,315
Emas
824,769 / gram

Ini Alasan Mendag Buka Keran Impor Garam ke RI

ECONOMICS
Ferdi Rantung/Sindonews
Jum'at, 19 Maret 2021 21:33 WIB
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, menjelaskan maksud pemerintah dalam membuka keran impor garam sebanyak tiga juta ton pada tahun ini.
Ini Alasan Mendag Buka Keran Impor Garam ke RI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, menjelaskan maksud pemerintah dalam membuka keran impor garam sebanyak tiga juta ton pada tahun ini. Dia beralasan garam yang diimpor akan dipakai untuk keperluan industri.

“Garam ini namanya sama rasanya juga sama tetapi kualitasnya berbeda. Jadi yang kita bicarakan adalah garam hasil impor untuk kebutuhan industri, di mana garam kita yang dikerjakan para petani garam belum bisa menyamai kualitas garam industri” kata Lutfi dalam konferensi persnya secara virtual, Jumat (18/3/2021).

Dia mejelaskan, latar belakang impor garam ini berasal dari kebutuhan standar industri. Jika garam tidak sesuai standar akan menghancurkan harga atau produk itu sendiri.

“Ada masalah-masalahnya di masa lampau, kalau Anda tau mi instan itu kan harganya kira-kira Rp2.500. Itu di dalam Rp2.500 itu ongkos untuk garamnya itu Rp2. Tetapi kalau garamnya tidak sesuai spek (spesifikasi) untuk industri garam, yang Rp2 itu bisa menghancurkan mie instan yang Rp2.500 itu. Inilah yang sekarang menjadi permasalahannya," ungkapnya.

Untuk itu, Lutfi menambahkan, para pelaku industri harus bisa meningkatkan kualitas dari garamnya. “Apa yang bisa dilakukan supaya swasembada? Bukan jumlahnya saja, tapi kualitasnya. Ini yang mustinya industri nasional bisa lihat opportunity untuk memperbaiki industri nasional," tandasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD