AALI
9750
ABBA
286
ABDA
6250
ABMM
1350
ACES
1195
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3300
ADHI
805
ADMF
7575
ADMG
170
ADRO
2190
AGAR
362
AGII
1430
AGRO
1275
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
66
AIMS
358
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
725
AKSI
745
ALDO
1315
ALKA
296
ALMI
288
ALTO
242
Market Watch
Last updated : 2022/01/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.82
0.04%
+0.23
IHSG
6556.00
-0.19%
-12.17
LQ45
939.03
-0.03%
-0.31
HSI
24283.31
0.16%
+39.70
N225
27101.98
-0.11%
-29.36
NYSE
16340.32
-0.45%
-73.65
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,325
Emas
851,136 / gram

Ini Faktor-faktor Pendorong Ekonomi RI Agar Tumbuh 5,5 Persen di 2022

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Jum'at, 03 Desember 2021 05:57 WIB
Senior Economist Bank DBS Radhika Rao mengatakan, terdapat tiga hal penting yang dapat memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan perekonomian Indonesia.
Ini Faktor-faktor Pendorong Ekonomi RI Agar Tumbuh 5,5 Persen di 2022. (Foto: MNC Media)
Ini Faktor-faktor Pendorong Ekonomi RI Agar Tumbuh 5,5 Persen di 2022. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Senior Economist Bank DBS Radhika Rao mengatakan, terdapat tiga hal penting yang dapat memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada 2022. Pertama, Indonesia diprediksi akan berhasil memberikan dosis vaksin penuh kepada 99% dari total populasi dewasa pada bulan Maret 2022.

Kedua, kemungkinan Indonesia yang akan menawarkan lebih banyak investasi dan bergerak pada sektor komoditas hilir serta akselerasi digitalisasi, akan mengembalikan pada pertumbuhan yang stabil. 

Ketiga, laporan fiskal Indonesia yang memuaskan dan langkah-langkah untuk mengurangi pajak pada ratio GDP akan memperkuat rasio utang dibandingkan negara lain di Asia.

"Program vaksinasi merupakan salah satu kunci dari keberhasilan penanganan pandemi di Indonesia. Dengan terlaksananya program vaksinasi secara masif dan terstruktur, mobilitas masyarakat akan meningkat dan hal ini memicu aktivitas perekonomian untuk mulai berjalan kembali," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021). 

Menurut dia, Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang berhasil melewati masa kritis pandemi di kuartal IV/2021 berkat adanya pengurangan asumsi ketidakpastian terhadap pasokan vaksin.

"Jika dapat terus dipertahankan, ekspektasi pemulihan ekonomi, serta pergerakan komponen lain seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, hingga ekspor dan impor dapat berjalan sesuai harapan," jelas Radhika.

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengungkapkan, Indonesia dan beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand akan mengalami ekspansi pertumbuhan di tahun 2022. Hal ini bertolak belakang dengan tren normalisasi pertumbuhan yang terjadi di Amerika Serikat dan sebagian negara Asia. 

"Sebagai produsen besar dari berbagai komoditas penting dunia, Indonesia menyediakan natural hedge yang menjadi penyelamat ekonomi kita di tengah terjadinya inflasi tinggi di berbagai kawasan," ujarnya.

Dia melanjutkan, Indonesia juga memiliki structural stories yang sehat, berbeda dengan banyak negara di Asia yang mengalami peningkatan rasio utang dan jumlah penduduk memasuki usia lanjut. Beberapa hal tersebut ikut meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia, di tengah tren diversifikasi oleh investor yang dipicu masalah geopolitik serta pandemi.

"Aliran dana asing telah kembali masuk ke pasar saham, bahkan semakin kuat menjelang pengetatan moneter The Fed. Indonesia akan bertumbuh karena pembukaan kembali perekonomian pada tahun 2022. Sedang terjadi rotasi sektoral, dan kami melihatnya sebagai fenomena yang wajar didukung oleh membaiknya situasi pandemi dalam negeri," jelasnya.

Menurut dia, ekonomi digital juga masih sangat menarik dengan prospek pertumbuhan kuat, terutama didukung oleh potensi inklusi pada indeks saham global. Sektor teknologi, green economy, dan telekomunikasi tetap menjadi sektor pilihan. Sementara itu, pasar obligasi dinilai siap dalam menghadapi perubahan sentimen global. 

"Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia. Kami memiliki pandangan yang positif terhadap pasar modal di tahun 2022," pungkas dia. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD